Data terbaru World Economic Forum (WEF) menyebut, rata-rata penduduk Indonesia menghabiskan USD6,09 untuk membeli hijab. Ada lebih dari 1 miliar hijab dibeli di Indonesia dalam setahun, dengan nilai transaksi lebih dari Rp1,02 triliun. Tapi, dari sekian banyak hijab yang dibeli itu, sebagian besar adalah produk impor. Kok bisa?
__________
Menurut laporan PRAsia, mayoritas produk hijab di pasaran, atau sekitar 75 persen, didominasi produk-produk impor. Hanya ada 25 persen produk lokal yang beredar.
Menyikapi kondisi ini, Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo menyatakan, pihaknya bakal mendorong produksi fesyen Muslim di dalam negeri agar permintaan meningkat dan bersaing di kancah internasional.
Upaya tersebut, kata Perry, sejalan dengan komitmen BI untuk memperluas akses pasar usaha mikro, kecil, dan menengah atau UMKM halal Indonesia, berbasis inovasi dan keberlanjutan. Mengembangkan UMKM wastra atau tekstil dan produk tekstil—hijab termasuk di dalamnya—juga menjadi fokus BI.
Menurut Perry, meningkatkan produksi hijab lokal bukan hal yang mustahil. Apalagi, sebagaimana data yang dikutip dari Kemlu RI, Indonesia merupakan salah satu eksportir tekstil terbesar di dunia, dengan nilai ekspor mencapai sekitar USD12 miliar. Dengan kekuatan ini, kata Perry, Indonesia pasti bisa memproduksi dan mengekspor produk tekstil berkualitas tinggi—seperti hijab.
“Masa’ kita hijab impor dari China? Di Tasikmalaya banyak. Di mana-mana pun juga banyak. Dan produk-produk makanan. UMKM wastra adalah fokus yang utama kita,” ujar Perry dalam Sarasehan Ekonom Islam Indonesia di Jakarta, Kamis, 15 Mei 2025
Perry menekankan, dengan potensi besar UMKM dan pesantren, Indonesia seharusnya bisa menjadi eksportir produk halal—bukan justru bergantung pada impor. Menurut dia, industri wastra dan produk syariah lokal cukup kuat untuk menjawab kebutuhan pasar domestik dan global.
Tiga Cara BI Tingkatkan Produksi Hijab Lokal
Kata Perry, BI punya tiga jurus untuk memperkuat ekonomi dan keuangan syariah.
Pertama, memperbesar pangsa pasar perbankan syariah, salah satunya melalui kehadiran Bank Syariah Indonesia (BSI). “Alhamdulillah kita dirikan BSI (Bank Syariah Indonesia). One of the biggest perbankan di Indonesia. Tapi, mari bersama kita perbanyak penumpangnya (nasabah syariah),” ujar Perry.
Kedua, membangun ekosistem kewirausahaan di lingkungan pesantren. BI mendorong produksi pangan dan fesyen, termasuk hijab, dari pondok pesantren untuk dipasarkan hingga ke luar negeri. Dia menilai, hal itu dapat memperkuat peran pesantren dalam mendukung industri halal nasional.
Ketiga, menggelar Festival Ekonomi Syariah di tiga wilayah utama dalam negeri dan secara internasional. Festival tersebut ditujukan untuk meningkatkan literasi dan inklusi keuangan syariah di masyarakat.***





