Ijtihad Bukan Hanya Hak ‘Orang-Orang Tertentu’, Siapa Saja Berhak Melakukannya

Ilustrasi. Berijtihad atau terus bergerak mencari kebenaran adalah hak semua orang, terutama umat Islam. Bukan hanya 'hak' golongan tertentu. FOTO: Canva

Makna ini, menurut Nursamad, sejalan dan seiring dengan penegasan Allah dalam QS. Al-Tin: 95:4. Dalam rangka pengembangan common sense tersebut, ikut dikembangkan pula segenap potensi diri manusia.

Jalan utama pengembangan ini adalah proses intelektualisasi, di mana dalam Al-Qur’an ada pedoman dasarnya. Menurut, Al-Qur’an, sebagaimana diterangkan Nursamad, pengetahuan dimulai dengan pendekatan indrawi. Bahkan, lebih rinci Al-Qur’an menegaskan awal dari setiap proses intelektualisasi adalah melalui pendengaran (sam’), penglihatan (bashar), dan pemikiran (fu’ad).

Bacaan Lainnya

Nursamad menambahkan, sejak awal Al-Qur’an mengasumsikan agar proses pendidikan tidak diselenggarakan dengan sistim indoktrinasi, tetapi dengan cara intelektualisasi. Al-Qur’an mengkritisi cara-cara tradisional dalam transfer doktrin-doktrin pendahulu kepada generasi baru. Termasuk sistem otoritas keagamaan yang oleh Al-Qur’an disebut rahbaniyyah—yang menurut penegasan Tuhan bukanlah sesuatu yang diharapkan.

Jika memahami penegasan Al-Qur’an tentang tanggung jawab personal dan individual, seseorang tidak menanggung dosa yang lain, tetapi setiap individu menanggung dosanya sendiri-sendiri. Maka dari itu, menurut Nursamad, pendidikan yang diterapkan dengan cara indoktrinasi akan bertentangan dengan semangat tanggung jawab individual ini.

Al-Qur’an sendiri menyitir sikap yang akan muncul sebagai akibat dari cara indoktrinasi ini: bahwa nanti di kemudian hari mereka yang menjadi ‘korban’ indoktrinasi akan beralasan kepada Tuhan dengan menunjuk hidung orang-orang atau pihak-pihak yang telah menyesatkan mereka.

Semangat tanggung jawab personal dan individual yang disampaikan Al-Qur’an juga diperkuat dengan sikap Nabi Muhammad yang sangat menghargai cara-cara ijtihad. Bagi Nabi, ijtihad adalah perbuatan yang selalu menguntungkan. Sebab, keliru saja mendapatkan satu pahala, apalagi jika tepat dan benar.

Untuk sampai kepada taraf ijtihad, memang tidak gampang. Dibutuhkan seperangkat pengetahuan menyangkut diri dan alam sekitar. Maka dari itu, sebagaimana pesan Tuhan lewat Kitab Suci, manusia diperintahkan memperluas cakrawala pengetahuan tentang diri dan alam sekitar.

Tuhan tak henti-hentinya mengingatkan manusia agar menggunakan seluruh potensi yang ada pada dirinya, terutama potensi-potensi intelektual. Dari potensi indriawi, rasional hingga spiritual. Penggunaan potensi-potensi inilah yang dimaksudkan sebagai proses intelektualisasi. Dan ke arah intelektualisasilah pendidikan harus diorientasikan.

Maka dari itu, berijtihadlah, jika Anda merasa punya akal.■

Pos terkait