Gus Baha: Melecehkan Harga Diri Sesama Muslim itu Haram, Bukan Ciri Ulama Berkelas

Gus Baha menegaskan, ucapan kasar atau merendahkan hanya akan menciptakan suasana yang tidak kondusif dan merusak hubungan antarsesama.“Nak ngomong ilmu nemen-nemen nga nti wong liyo koyo manuk ketulup iku ora oleh,” tegas Gus Baha, yang menggambarkan bagaimana ucapan berlebihan dapat membuat orang lain merasa tertekan.

Gus Baha juga menjelaskan bahwa ulama sejati cenderung bersikap rendah hati ketika berinteraksi dengan orang lain. “Roto-roto ulama tenanan nak ketemu wong gayane gaya awam,” katanya. Hal ini karena berbicara dengan ilmu yang terlalu tinggi justru bisa dianggap merendahkan orang lain.

Perkarane, nak kowe ngomong ilmu berlebihan, podo karo gawe suasana ndekné koyo manuk ketulup, hah hoh (bingung),” lanjutnya. Karena itu, ulama yang berkelas cenderung menggunakan pendekatan humor atau guyonan saat berinteraksi dengan masyarakat umum.

Bacaan Lainnya

Ia mencontohkan situasi di mana seseorang menggunakan ilmu tinggi sehingga orang lain terlihat seperti tidak tahu apa-apa. “Lha iku ora oleh, nggawe suasana wong ketok gobloke, kowe ketokno pintere. Iku pelecehan,” tegas Gus Baha.

Menurut Gus Baha, perilaku seperti ini harus dihindari, terutama oleh para pendakwah atau tokoh agama. Mereka harus mampu membawa suasana yang nyaman dan membangun, bukan malah membuat orang merasa hina dina.

Pentingnya menjaga adab dalam berbicara ini juga ditekankan sebagai bagian dari menghormati kehormatan sesama muslim. Gus Baha mengingatkan bahwa setiap muslim memiliki hak untuk dihormati, baik dalam aspek darah, harta, maupun harga diri.

“Jadi, nak ketemu wong ya ojo digasak dunyane, ojo dihinakake harga dirine,” ujarnya. Penekanan ini menjadi relevan, terutama dalam konteks dakwah, di mana pendakwah seharusnya memberikan teladan yang baik kepada umat.

Gus Baha juga mengingatkan bahwa dakwah yang efektif tidak hanya menyampaikan ilmu, tetapi juga menciptakan suasana yang ramah dan penuh kasih sayang. “Ulama sing bener mesthi paham ngene. Nak ngomong ya ndak nggawe wong liyane kikuk,” katanya.

Pesan ini m emberikan pelajaran penting bahwa dakwah dan interaksi sosial tidak hanya membutuhkan ilmu, tetapi juga adab dan akhlak.
Sikap merendahkan orang lain tidak hanya merusak hubungan, tetapi juga mencederai ajaran Islam itu sendiri.

Pos terkait