Ulama asal Rembang KH. Ahmad Bahauddin atau Gus Baha menyampaikan nasihatnya terkait viralnya lontaran bernada menghina yang dilakukan pendakwah Miftah Maulana Habiburrohman.
Dalam sesi tanya jawab, seorang peserta menanyakan pendapat Gus Baha tentang hal viral tersebut. Namun Gus Baha menjawab, kalau dirinya tidak memiliki medsos, sehingga tidak tahu kejadiannya.
Pada kesempatan itu, pakar tafsir Al-Quran Indonesia itu menceritakan dalam satu masa, pernah ada khalifah di Turki yang didatangi ulama muda. Kepada khalifah, ulama tersebut menegaskan akan memberi wejangan yang keras.
Namun, ujarnya, khalifah menjawab dengan memberikan contoh tentang masa Nabi Musa. Meski menghadapi orang yang jauh lebih buruk dari dirinya sebagai khalifah, yakni Fir’aun, Nabi Musa diutus Allah untuk menyampaikan pesan kepada Fir’aun untuk berkata lemah lembut dan sopan.
Gus Baha juga menyebutkan, jenis pertanyaan yang diajukan itu sebagai ‘kriminal’ sehingga menghadapi pertanyaan semacam itu ulama tidak akan menjawab dengan tegas.
Gus Baha berkelakar bahwa dirinya adalah gus asli, artinya lahir dari orangtua yang mengasuh pondok pesantren, demikian pula kakek-kakeknya. “Saya ini gus asli, bukan naturalisasi,” katanya sambil tertawa.
Jauh hari sebelum insiden ini terjadi, KH Ahmad Bahauddin Nursalim atau Gus Baha pernah mengingatkan agar umat Islam menjaga kehormatan sesama.
Dalam sebuah video yang diunggah di kanal YouTube @alqolbumutayyam89, Gus Baha menjelaskan pentingnya menjaga adab dan kehormatan dalam berbicara, terutama kepada sesama muslim. Ia mengutip sebuah hadis yang menegaskan larangan keras untuk melecehkan sesama muslim.
“الْمُسْلِمِ عَلَى الْمُسْلِمِ حَرَامٌ دَمُهُ وَمَالُهُ وَعِرْضُهُ,” ujar Gus Baha, mengutip sabda Rasulullah SAW.
Artinya, haram bagi seorang muslim dari muslim lainnya darahnya, hartanya, dan harga dirinya. Hadis ini diriwayatkan oleh Imam Muslim dan menjadi landasan penting dalam menjaga hubungan antar sesama umat Islam.
Menurut Gus Baha, pelecehan terhadap sesama muslim, baik melalui tindakan, ucapan, maupun sikap merendahkan, adalah perbuatan yang sangat dilarang dalam Islam. Ia menjelaskan, “Wong nak wis Islam, haram dunyane mbok gasap, haram harga dirine mbok lecehno. Paham nggih?”
Pesan ini menjadi pengingat agar umat Islam lebih berhati-hati dalam berbicara.

