Publik dibikin geger oleh istilah “rakyat jelata” yang dipilih Juru Bicara Kantor Komunikasi Kepresidenan Adita Irawati sebagai kata ganti yang merujuk pada masyarakat umum. Istilah ini dinilai oleh sebagian publik bermakna “merendahkan”. Sebenarnya apa, sih, arti “rakyat jelata” itu?
__________
Diksi “rakyat jelata” itu diucapkan Adita ketika memberi klarifikasi terkait sikap Presiden Prabowo terhadap kasus penceramah sekailigus Utusan Khusus Presiden Miftah Maulana Habiburrohman.
“Presiden kita Pak Prabowo Subianto, ini kalau dilihat dari berbagai, baik itu pidato atau kunjungan beliau, terlihat sekali pemihakan beliau pada rakyat kecil, pada rakyat jelata,” kata Adita, sebagaimana terekam dalam potongan klip yang viral di sejumlah platform sosial media, Kamis, 5 Desember 2024.
Adita sudah memohon maaf melalui sebuah video yang diunggah Instagram Kantor Komunikasi Kepresidenan RI di hari yang sama terkait ucapannya itu. Meksi sudah mengaku ‘keseleo lidah’, Adita masih saja ‘dirujak’ warganet.
Lalu, apakah sebenarnya makna “rakyat jelata”? Benarkah berkonotasi penghinaan?
Melansir dari Wikipedia, istilah “rakyat jelata” ini sepadan dengan “orang biasa” atau “massa”.
Sedangkan Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) menjelaskan, “jelata” berarti “bukan bangsawan atau hartawan”. Juga dimaknai sebagai “rakyat” atau “orang biasa”.
Mulanya kata tersebut disematkan untuk orang biasa dalam suatu komunitas atau bangsa yang tidak memiliki status sosial yang signifikan—misalnya bukan anggota keluarga kerajaan, bangsawan, atau bukan bagian dari aristokrasi.
Secara terminologi, kata “jelata” berasal dari Bahasa Sansekerta, “janata“, yang artinya “rakyat”. Lema ini digunakan untuk membedakan kelompok yang punya uang dan kuasa dengan yang tidak punya.
Merujuk pada arti tersebut, di India ada partai bernama Partai Bharatiya Janata, yang jika diterjemahkan secara harfiah berarti Partai Rakyat India. Partai ini adalah satu dari dua parpol utama di India, bersama Kongres Nasional India.
Sejak tahun 2014, partai ini menjadi partai politik yang berkuasa di India, di bawah Perdana Menteri saat ini, Narendra Modi.
Presiden pertama RI, Sukarno, juga pernah memakai penyebutan “rakyat jelata”. Sukarno menggunakan istilah itu ketika bercerita tentang pengasuhnya yang bernama Sarinah, yang terekam dalam biografi Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat Indonesia karya Cindy Adams.
“Dialah yang mengajarku untuk mengenal cinta‐kasih. Aku tidak menyinggung pengertian jasmaniahnya bila aku menyebut itu. Sarinah mengajarku untuk mencintai rakyat. Massa rakyat, rakyat jelata,” kata Sukarno, dikutip dari buku tersebut.
“Selagi ia memasak di gubuk kecil dekat rumah, aku duduk di sampingnya dan kemudian ia berpidato,” lanjut Sukarno. “Karno, yang terutama engkau harus mencintai ibumu. Akan tetapi, kemudian engkau harus mencintai pula rakyat jelata. Engkau harus mencintai manusia umumnya,” ungkap Bung Karno.
Setidaknya hingga masa Sukarno mengucapkan itu, sepertinya tidak ada problem ‘ketersinggungan sosial’ akibat penggunaan istilah “rakyat jelata”.
Namun, zaman berlalu, makna bahasa berubah. Diksi rakyat jelata zaman ini mengalami peyorasi, atau perubahan makna kata yang menyebabkan makna baru lebih rendah, kurang menyenangkan, dan kurang halus nilainya daripada makna semula. Jadinya istilah lebih berkonotasi merendahkan seseorang, dengan tolok ukur kalangan atau kasta.
Dus, penggunaan istilah “rakyat jelata” pun bisa dimasukkan dalam kekerasan linguistik. Bagian dari kekerasan kultural, di mana bahasa digunakan untuk melanggengkan relasi kuasa dan ketimpangan gender.
Istilah ini diperkenalkan oleh William C Gay, pakar linguistik dari Universitas North Carolina, pada tahun 1998.
Istilah ini pun, di masa sekarang, memiliki konotasi hierarkis yang bisa menimbulkan persepsi merendahkan. Apalagi yang mengucapkannya dipandang sebagai kalangan “atas”, seperti Adita Irawati Juru Bicara Kantor Komunikasi Presiden itu. ***
