Grup FB “Fantasi Sedarah” Diduga Ganti Nama Jadi “Suka Duka”, Bukti Lemahnya Moderasi Konten Medsos

Grup Facebook yang ditengarai merupakan grup para pelaku penyimpangan seksual inses “Fantasi Sedarah” diduga sempat berubah nama menjadi “Suka Duka”. Dengan anggota mencapai 41,9 ribu, grup “Suka Duka” menjadi ruang bagi perilaku tidak senonoh yang dipertontonkan secara terbuka alias tanpa malu-malu.

______________

Fenomena kemunculan grup Facebook bernama “Suka Duka” yang belakangan ini menuai kecaman luas dari warganet tampaknya semakin mempertegas kekhawatiran publik terhadap lemahnya moderasi konten di platform media sosial (medsos).

Sorotan terhadap grup ini makin meningkat setelah seorang pengguna dengan akun @laviencapri membagikan tangkapan layar percakapan di dalamnya.

Bacaan Lainnya

Salah satu unggahan yang memicu kemarahan warganet adalah unggahan dari akun Facebook bernama Rama Raka yang menulis pada grup tersebut: “Hubungan intim dengan ibu kandung itu dilarang, tetapi itu yang paling nikmat.”

Saat ini grup Suka Duka tak bisa diakses. “Konten ini tidak tersedia. Apabila hal ini terjadi, biasanya karena pemilik (grup) hanya membagikannya kepada sekelompok kecil orang, mengubah siapa yang dapat melihatnya, atau (grup) telah dihapus,” demikian keterangan yang muncul saat link grup Suka Duka di-klik.

Setelah viral, kasus ini telah mendapatkan respons dari Humas Polri melalui akun X resminya.

“Selamat pagi sobat Polri. Terima kasih atas informasinya. Kami akan melakukan pendalaman dan penyelidikan terhadap akun tersebut,” demikian unggahan @DivHumas_Polri di X, Jumat, 16 Mei 2025.

“Jika ada informasi lain yang perlu kami tindak lanjuti, silahkan hubungi kami melalui patrolisiber.id atau call center 110,” sambung Humas Polri.

Meski Diblokir, Mereka Tetap Eksis

Sosiolog Universitas Indonesia Ida Ruwaida menilai keberadaan kelompok pedofilia bukanlah hal baru. Namun ketika kelompok ini menargetkan anak-anaknya sendiri sebagai korban, dunia seolah memasuki titik nadir.

“Ketika mereka menjadikan anak-anak sendiri sebagai objek, rasanya dunia sudah kiamat bagi saya,” kata Ida, Ahad, 18 Mei 2025.

Pos terkait