Gerakan Pemuda (GP) Ansor meluncurkan Asta Cita Center dan bakal membentuk Satuan Tugas (Satgas) Pangan untuk mendukung program pemerintahan Presiden Prabowo Subianto. Pengamat menyebut upaya ini sebagai cara badan otonom (banom) Nahdlatul ulama (NU) itu agar dilirik pemerintah.
Asta Cita Center secara resmi diluncurkan, di Hotel Bidakara, Jakarta, pada Rabu, 15 Januari 2025. Menurut Ketua Umum GP Ansor Addin Jauharudin, Asta Cita Center adalah lembaga think tank kebijakan pemerintah.
“Dibentuk untuk memberikan masukan melalui kajian-kajian terhadap isu strategis dengan menyediakan analisis dan rekomendasi dalam isu bisnis atau ekonomi, inovasi teknologi dan media, sumber daya manusia (SDM), dan anak muda,” kata Addin, dalam sambutannya saat acara peluncuran Asta Cita Center.
Selain Asta Cita Center, GP Ansor juga akan membentuk Satgas Pangan Banser yang beranggotakan 10.000 kader di seluruh Indonesia. Satgas dibentuk untuk mendukung penuh program makan bergizi gratis (MBG) yang diinisiasi Presiden Prabowo Subianto.
Rencananya, pengukuhan Satgas Pangan bakal dilaksanakan sekalian dalam rangkaian perayaan hari lahir (harlah) ke-91 GP Ansor pada bulan April 2025.
Addin mengklaim bahwa Satgas Pangan akan menjalankan dua peran strategis untuk mendukung program MBG. Pertama, penyuluh produk pangan, dan kedua, pembangun kelompok tani.
Cari Perhatian Pemerintah
Pengamat Gerakan dan Politik Islam dari Universitas Indonesia (UI), Yon Mahmudi, memandang jika apa yang dilakukan GP Ansor itu merupakan upaya agar ormas tersebut dilirik pemerintah.
Ansor melakukan itu karena, menurut Yon, gaya pemerintahan Presiden Prabowo Subianto berbeda dengan era Jokowi.
Menurut pandangan Yon Mahmudi, pada era Jokowi, pemerintah dan Ansor memiliki hubungan istimewa.
“Keduanya saling membutuhkan guna melawan ‘musuh-musuh politik’. Semacam simbiosis mutualisme,” ujar Yon Mahmudi kepada Samudra Fakta, Kamis, 16 Januari 2025. Yon menilai, Ansor di zaman Jokowi telah menjadi simbol salah satu kekuatan penting untuk rezim.
Namun, kondisi tersebut kini berubah. Pemerintahan Prabowo cenderung mengakomodasi semua kekuatan politik. Tidak ada konfrontasi atau semacam musuh politik.
“Kepentingan rezim sekarang tersebar dan bisa diakomodasi oleh partai-partai politik koalisi (KIM Plus), sehingga ormas tidak lagi menjadi penting untuk mendukung legitimasi politik,” imbuh Yon.
Maka dari itu, Yon mensinyalir, Ansor membentuk Asta Cita Center dan Satgas Pangan Banser supaya dilirik pemerintah.
“Untuk menciptakan ketertarikan atau hubungan dengan pemerintah, mau tidak mau (GP Ansor) harus membuat program yang selaras dengan program pemerintah, dan diharapkan bisa mengakomodasi kepentingan dan program pemerintah kepada masyarakat,” katanya.
Ansor melakukan itu karena—menurut Yon—tidak mandiri secara ekonomi dan masih bergantung kepada pemerintah.
“Ansor secara ekonomi tidak mandiri. Bukan kekuatan ekonomi dan pemberdayaan ekonomi yang secara mandiri mampu menciptakan kegiatan tanpa ketergantungan pada bantuan pemerintah. Mau tidak mau harus melakukan kegiatan yang beririsan dengan program pemerintah,” kata mantan Kepala Program Pasca Sarjana Kajian Timur Tengah dan Islam, Sekolah Kajian Strategis dan Global UI ini.
Ketua Presidium Penyelamat Organisasi dan Panitia Muktamar Luar Biasa NU (PO & MLB NU) Abdussalam Shohib atau Gus Salam mengapresiasi dibentuknya Asta Cita Center dan 10 ribu Satgas Pangan Banser oleh GP Ansor.
“Saya kira program bagus. Asalkan dilakukan dengan profesional dengan mengedepankan kompetensi dan kualitas,” kata Gus Salam melalui pernyataan tertulisnya kepada Samudra Fakta, Kamis, 16 Januari 2025.***





