Gelar Alam Menjembatani Adat dan Teknologi

Pembangkit Listrik Tenaga Mikrohidro (PLTMh) Kasepuhan Cipta Gelar (sekarang bernama Gelar Alam) -iesr.id

Dalam peta besar itu, mikrohidro dan surya di Gelar Alam mungkin tampak kecil. Namun, justru pada skala komunitas inilah transisi energi menemukan makna sosialnya. Energi terbarukan bukan sekadar angka bauran, melainkan cara hidup yang terkait langsung dengan pengelolaan alam dan tata nilai.

Gelar Alam menunjukkan bahwa transisi energi tidak selalu harus datang dari proyek raksasa. Ia bisa tumbuh dari sungai yang dijaga, hutan yang dihormati, dan keputusan kolektif untuk tidak memutus hubungan dengan masa lalu.

Bergerak Maju Tanpa Tercabut

Pilihan Gelar Alam bukan tanpa tantangan. Teknologi selalu membawa kemungkinan perubahan nilai. Namun, komunitas ini memilih jalan sadar: bergerak maju tanpa tercabut dari akar.

Bacaan Lainnya

Di tengah gempuran modernisasi yang kerap menyingkirkan tradisi, Gelar Alam menawarkan narasi lain. Bahwa kemajuan tidak harus berbentuk penggantian, melainkan penyelarasan. Bahwa teknologi bisa menjadi alat penguat identitas, bukan penghapusnya.

Di desa ini, listrik menyala bukan sebagai simbol dominasi manusia atas alam, melainkan sebagai hasil kerja sama dengannya. Internet hadir tanpa mengusir kebijaksanaan lama. Dan adat, alih-alih menjadi beban masa lalu, justru menjadi kompas untuk menavigasi masa depan.***

Pos terkait