Gelar Alam Menjembatani Adat dan Teknologi

Pembangkit Listrik Tenaga Mikrohidro (PLTMh) Kasepuhan Cipta Gelar (sekarang bernama Gelar Alam) -iesr.id

Hutan adat di sekitar Gelar Alam tidak diperlakukan sebagai komoditas. Ada wilayah yang boleh dikelola, ada yang dilarang disentuh. Aturan itu memastikan aliran Sungai Cisono tetap stabil, sekaligus menjaga mikrohidro bekerja tanpa merusak ekosistem.

Selain mikrohidro, warga juga memanfaatkan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS). Panel-panel surya dipasang untuk kebutuhan tertentu, terutama menghidupkan jaringan wifi desa. Energi matahari dipilih bukan hanya karena praktis, tetapi karena sejalan dengan prinsip hidup selaras dengan alam.

Pemukiman masyarakat Kasepuhan Cipta Alam. – Samudrafakta/Faried Wijdan
Internet sebagai Alat, Bukan Tujuan

Keberadaan wifi desa sering memicu kekhawatiran di banyak komunitas adat: apakah internet akan menggerus tradisi? Di Gelar Alam, pertanyaan itu dijawab dengan pendekatan selektif. Internet diperlakukan sebagai alat bantu, bukan pusat kehidupan.

Bacaan Lainnya

Jaringan wifi memungkinkan warga mengakses informasi, berkomunikasi dengan dunia luar, dan mendukung aktivitas komunitas. Namun, ritme adat tetap menjadi penentu utama. Kalender tanam, upacara adat, hingga pembagian peran sosial masih mengikuti aturan kasepuhan.

Pendekatan serupa terlihat pada kehadiran televisi komunitas Ciga TV. Stasiun ini dikelola warga sendiri, menyajikan siaran yang merekam kehidupan adat, kesenian, dan peristiwa lokal. Alih-alih menjadi jendela pasif ke dunia luar, televisi justru dipakai untuk memperkuat identitas dari dalam.

Bagi Dede—yang juga dikenal sebagai penyiar radio komunitas Ciptagelar, nama lama radio setempat—media adalah ruang narasi. Selama narasi itu dikendalikan komunitas, teknologi tidak akan menjadi ancaman.

Contoh Kecil di Tengah Agenda Besar

Langkah Gelar Alam beresonansi dengan agenda energi yang lebih luas. Institute for Essential Services Reform (IESR) mendorong Indonesia mengurangi ketergantungan pada PLTU batubara dan melipatgandakan bauran energi terbarukan hingga tiga kali lipat pada 2030. Untuk menjaga kenaikan suhu bumi di bawah 1,5 derajat Celsius, penggunaan batubara dinilai harus berhenti pada 2040.

Pos terkait