Dialektika Bapak-Bapak Bangsa (1): Pasang-Surut Relasi Sukarno-Tan Malaka

Kesepakatan yang Berakhir Petaka

Perbedaan pendapat dan sikap antara Sukarno dan Tan Malaka terkait kemerdekaan Indonesia itu merupakan mozaik dan dinamika hubungan kedua Bapak Bangsa tersebut. Pasalnya, meski berbeda dalam beberapa hal, keduanya saling mengagumi dan mengidolakan.

Bacaan Lainnya

Djamaluddin Tamim, sahabat Tan Malaka, dalam catatannya pernah menulis tentang kekompakan Sukarno dan Tan Malaka. Dia mengaku dititipi surat oleh Sukarno untuk disampaikan kepada Tan Malaka.

Surat tersebut berisi pernyataan Sukarno: “Saya bersedia untuk segera muncul di lapangan politik, tetapi saya harapkan supaya saudara Tan Malaka selalu memberikan pedoman, tuntunan kepada saya”. Setelah membaca surat Sukarno, Tan Malaka langsung menulis artikel berisi arahan untuk perjuangan kaum intelektual Indonesia berjudul Pari dan Kaum Intelektuil Indonesia.

Surat tersebut diserahkan kepada Tan Malaka di Bangkok, Thailand. Tan Malaka sendiri berada di Bangkok sejak Desember 1926. Di sana ia mempelajari kekalahan PKI.

Sukarno mengakui bahwa Tan Malaka adalah salah satu guru politiknya yang memberinya banyak inspirasi dan pengaruh. Usia Sukarno dan Tan Malaka memang terpaut cukup dekat. Mereka hanya selisih 4 tahun.

Nama Tan Malaka menjulang tinggi di sepanjang 1919-1922. Sementara, dalam rentang masa yang sama, Sukarno masih berhimpun di Jong Java. Ketika Sukarno mulai membangun gerakan politiknya, Tan Malaka sudah dibuang keluar Hindia-Belanda.

Sukarno pernah menyebut Tan Malaka sebagai seorang yang mahir dalam revolusi. Ketika memperingati sewindu hilangnya Tan Malaka, pada tanggal 19 Februari 1957, Kepala Staf Angkatan Darat Mayor Jenderal Abdul Haris Nasution mengatakan pikiran Tan Malaka dalam Kongres Persatuan Perjuangan dan Buku Gerporlek (Gerilya Politik Ekonomi) menyuburkan ide perang rakyat semesta.

Perang rakyat semesta ini, menurut Nasution, sukses ketika rakyat melawan dua kali Agresi Belanda. Terlepas dari pandangan politik, ia berkata, Tan Malaka harus dicatat sebagai tokoh ilmu militer Indonesia. Hal ini disebutkan dalam Tan Malaka: Bapak Republik yang Dilupakan (2018) dan  kata pengantar penerbit buku Tan Malaka, Aksi Massa, (2010).

Sukarno mengaku bahwa dia kenal karya-karya Tan Malaka sejak tahun 1920-an dan menggunakannya sebagai rujukan dalam kursus-kursus politik yang dia kerjakan di PNI. Bahkan, kabarnya, salah satu alasan Sukarno ditangkap dan dijebloskan ke Penjara Banceuy, Bandung, adalah karena adanya buku Massa Actie atau Aksi Massa di kamarnya.

Kendati Sukarno lahap membaca buku-buku Tan Malaka sejak muda, dia belum pernah sekali pun berjumpa dengan penulisnya—hingga menjelang Kemerdekaan Indonesia.

Pada Juni 1943, Sukarno sebenarnya bertemu Tan Malaka di daerah Bayah, Banten, namun tidak menyadarinya. Ketika itu dia berdebat keras dengan seseorang yang mengaku bernama Hussein Ilyas. Rupanya, si Hussein ini adalah Tan Malaka yang sedang menyamar. Dan Sukarno awalnya tidak tahu jika laki-laki yang berdebat keras dengannya itu adalah orang yang dia kagumi pemikirannya melalui buku.

Pertemuan resmi antara Sukarno dan Tan Malaka—setidaknya seperti yang dicatat oleh sejarah resmi Indonesia—berlangsung pada bulan September 1945. Sebulan setelah Sukarno membacakan Proklamasi Kemerdekaan Bangsa Indonesia.

Cerita pertemuan tersebut direkam oleh Tan Malaka dalam autobiografinya, Dari Penjara ke Penjara. Tan, yang hingga saat itu istikamah hidup dalam penyamaran, mengaku senang bisa bertemu Sukarno dan Hatta.

Pos terkait