Dialektika Bapak-Bapak Bangsa (1): Pasang-Surut Relasi Sukarno-Tan Malaka

Kampanye Romusha

Salah satu aplikasi kerja sama Sukarno dengan Jepang adalah dengan bergabung dalam Jawa Hokokai—dalam bahasa Indonesia berarti “Himpunan Kebaktian Rakyat”—yaitu sebuah organisasi yang dibentuk Jepang pada tahun 1944 untuk mewadahi pribumi yang sanggup “setia” dan “berbakti” kepada mereka.

Dalam kapasitasnya sebagai anggora Jawa Hokokai, sekaligus tokoh politik Indonesia yang bekerja sama dengan Jepang, Sukarno memberangkatkan 500-an romusha Indonesia ke Burma—sekarang Myanmar—pada 3 September 1944.

Bacaan Lainnya

Karena yang memberangkatkan adalah orang yang dianggap sebagai pemimpin bangsa, para romusha lokal itu berangkat dengan bangga. Apalagi Sukarno mengiringi keberangkatan itu dengan pidatonya yang khas berapi-api.

“Tujuan usaha ini (memberangkatkan romusha) adalah untuk menunjukkan kepada Jepang bahwa penduduk Jawa telah siap sehidup semati dengan Dai Nippon. Kita berjanji tidak akan bercukur selama pengabdian sebagai romusha sebagai tanda bukti kepada negara,” kata Sukarno di depan romusha yang diberangkatkan itu, sebagaimana dicatat oleh sejarawan Jepang Aiko Kurasawa.

Sukarno ketika menjadi romusha di Bayah, Banten Selatan. (Dok. Istimewa)

Untuk meyakinkan agar para romusha lokal itu mau diberangkatkan, Sukarno bahkan pernah terjun langsung menjadi romusha di Bayah, Banten. Tujuannya untuk kampanye, agar mereka-mereka yang dikirim ke Burma yakin jika keputusan mereka itu tepat. Foto-foto aktivitas keromushaan Sukarno itu bahkan abadi hingga saat ini. Di lengan kanannya, sebagaimana terekam oleh foto, tersemat pita besar dengan tulisan angka 970.

“Prototype” romusha bernama Sukarno itu, sebagaimana ditulis koran-koran zaman tersebut, tinggal di pondokan sederhana yang dibuat untuk romusha dan ikut makan makanan mereka. Koran-koran juga memuat foto saat Sukarno mengangkat karung pasir dalam pekerjaan sehari-hari “pejuang pekerja” itu. Bedanya dengan romusha lain, Sukarno pulang ke Jakarta beberapa hari kemudian—setelah “kampanye” romusha itu—sementara romusha yang asli tidak.

Soal sikapnya tersebut, Sukarno pernah memberikan “pengakuan dosa” kepada penulis Amerika, Cindy Adams—yang direkam dalam buku Bung Karno: Penyambung Lidah Rakyat Indonesia.

“Sesungguhnya akulah Sukarno yang mengirim mereka kerja paksa. Ya, akulah orangnya. Aku menyuruh mereka berlayar menuju kematian. Ya, ya, ya, ya akulah orangnya. Aku membuat pernyataan untuk menyokong pengerahan romusha. Aku bergambar dekat Bogor dengan topi di kepala dan cangkul di tangan untuk menunjukkan betapa mudah dan enaknya menjadi seorang romusha. Dengan para wartawan, juru potret, Gunseikan–kepala pemerintahan militer, dan para pembesar pemerintahan aku membuat perjalanan ke Banten untuk menyaksikan tulang-tulang-kerangka-hidup yang menimbulkan belas, membudak di garis-belakang, itu jauh di dalam tambang batu bara dan tambang emas. Mengerikan. Ini membikin hati di dalam seperti diremuk-remuk.”

Sukarno mungkin sedang menyesali apa yang diperbuatnya di masa lalu. Pasalnya, sebagian besar romusha yang dikirimnya untuk ikut kerja paksa di sepanjang Nok Pla Duk, Thailand, ke Thanbyuzayet, Burma, mati di medan kerja. Sejarawan Aiko Kurasawa mencatat, kerja paksa kolosal itu menyebabkan kematian 30 ribu romusha, termasuk di antaranya romusha dari Indonesia yang dikirimkan oleh Sukarno. Demikian pula dengan kerja paksa pembangunan rel Saketi-Bayah sepanjang 150 kilometer: ribuan romusha mati setelah kelaparan dan diserang penyakit.

Sikap keromushaan Sukarno itu membuat Tan Malaka kecewa berat. Sebab, sebagaimana dalam catatannya, yang terekam dalam buku Harry A. Poeze, Pergulatan Menuju Republik, Tan Malaka bersaksi bahwa setidaknya 300-an romusha mati setiap bulan di lokasi pekerjaan yang merupakan sarang kolera dan malaria. Sebagai anak bangsa, Tan Malaka merasa sedih dan marah.

Pos terkait