Dialektika Bapak-Bapak Bangsa (1): Pasang-Surut Relasi Sukarno-Tan Malaka

Beberapa hari setelah pertemuan di rumah dr. Soeharto, Sukarno dan Tan Malaka bertemu lagi. Kali itu berlangsung siang hari di rumah dr. Muwardi, Jl. Mampang, Jakarta Selatan. Moewardi adalah pemimpin Barisan Pelopor pada masa pendudukan Jepang—yang setelah Proklamasi berkembang menjadi korps tempur Barisan Banteng.

Sayuti Melik, dalam Wawancara Dengan Sayuti Melik, tulisan Arief Priyadi, menyebutkan bahwa topik yang dibicarakan dalam dua kali pertemuan itu adalah soal perjuangan sesudah Proklamasi Kemerdekaan. Tan Malaka lebih banyak berbicara karena lebih berpengalaman di medan perjuangan. Tak hanya di Indonesia, tetapi melainkan juga di luar negeri.

Bacaan Lainnya

Yang menarik perhatian Sukarno dalam dua kali pertemuan tersebut adalah analisis tajam Tan Malaka mengenai kedudukan pemerintahan Indonesia di waktu dekat. Tan mengatakan bahwa tidak lama lagi Belanda akan datang dengan menumpang Sekutu. Jakarta dipastikan akan menjadi medan pertempuran. Oleh karena itu, pemerintahan tidak dapat tetap tinggal di Jakarta, melainkan harus pindah ke pedalaman.

Menurut Sayuti, analisis panjang lebar dari Tan Malaka mendapatkan perhatian dari Sukarno. Hingga pada akhirnya Sukarno mengatakan: “Jika nantinya terjadi sesuatu atas diri kami, sehingga tidak dapat memimpin revolusi kita, saya harap saudaralah yang melanjutkannya. Dan untuk ini saya akan membuat testamen.”

Tan Malaka menganggap testamen itu sebagai kehormatan dan tanda kepercayaan. “Saya sudah cukup senang bertemu presiden Republik Indonesia, republik yang sudah sekian lama saya idamkan,” kata Tan Malaka.

Pos terkait