Awal pertemuan bermula pada suatu hari di bulan September 1945, ketika Sukarno mendengar kabar jika Tan Malaka sedang berada di Jakarta. “Sukarno lantas menugasi sekretaris pribadinya, Sajoeti Melik, untuk mencari tahu keberadaan Tan dan mengatur pertemuan dengannya,” demikian tertulis dalam buku Soekarno Poenja Tjerita, Yang Unik dan Tak Terungkap Dari Sejarah Soekarno.
Sukarno pun mengonfirmasi keberadaan Tan di Jakarta melalui Ahmad Soebardjo. Rupanya hanya kepada Ahmad Soebardjo lah—teman sekolahnya semasa di Belanda—Tan Malaka bersedia membuka identitas aslinya.
Harry A. Poeze dalam Tan Malaka, Gerakan Kiri dan Revolusi Indonesia (2018) menyebut pertemuan antara Sukarno dengan Tan Malaka berlangsung diam-diam pada 9 September 1945 di rumah dr. Soeharto, dokter pribadi Sukarno, di Jl. Kramat Raya No.82 Jakarta Pusat. Sukarno meminta dokter pribadinya itu merahasiakan pertemuan itu. Kepada si tuan rumah, Tan mengaku bernama Abdul Razak dari Kalimantan.
“Saking rahasianya, pertemuan dengan Sukarno digelar dalam kondisi gelap. Lampu di kamar pertemuan sengaja dipadamkan. Dalam kegelapan malam itu sang tamu rahasia memperkenalkan dirinya kepada saya sebagai Abdulrajak dari Kalimantan. Saya tuntun dia melalui garasi menuju ke kamar belakang,” kata Soeharto dalam memoarnya, Saksi Sejarah.
Sedangkan menurut Harry A. Poeze, dalam Tan Malaka, Gerakan Kiri, dan Revolusi Indonesia, Tan mencatat bahwa percakapan mereka harus dirahasiakan untuk menghindari sisa orang-orang Jepang yang masih bersenjata lengkap. Pasalnya, Tan sendiri merupakan buronan Jepang. Maka dari itulah dia selalu hidup dalam penyamaran.
Dalam pembicaraan itu, sebagaimana dicatat Poeze, Sukarno membahas materi buku Massa Actie Naar de Republiek-Indonesia karya Tan Malaka yang dia kenal pada tahun 1920-an.
Sukarno, dalam perbincangan itu, mengaku jika Massa Actie atau Aksi Masa merupakan risalah politik yang sangat memengaruhi pemikirannya. Ketika Sukarno diadili pada 1931 dengan tuduhan menghasut pemberontakan, berkali-kali dia menyebut Massa Actie sangat penting baginya di depan hakim.
Sukarno juga memanfaatkan pertemuan itu untuk menanyakan dan mengonfirmasi sejumlah pemikiran Tan Malaka, terutama isi buku Aksi Massa. Semua pertanyaan dijawab Tan dengan lugas.
Tan Malaka banyak menjelaskan soal strategi dan prospek revolusi Indonesia. Dia juga memberi saran tentang tiga hal, yang membuat Sukarno semakin mengagumi pemikiran pendiri Partai Murba tersebut. Saran pertama, Pemerintahan RI hendaknya dipindah ke pedalaman. Kedua, orang-orang Belanda dan Inggris yang ada di Indonesia segera dipulangkan. Dan ketiga menjadikan Jakarta sebagai medan pertempuran melawan pasukan Sekutu yang telah memenangkan Perang Dunia II.
Sukarno sempat mempersoalkan alasan usulan Jakarta menjadi medan pertempuran. Sebab, sebelumnya dia banyak menerima saran yang isinya justru Jakarta hendaknya disterilkan dari pertempuran. Namun, Sukarno mendapat penjelasan yang membuatnya semakin kagum dengan pemikiran Tan Malaka.
Poeze juga menyebut bahwa, saking kagumnya Sukarno pada Tan Malaka, dalam pertemuan tersebut dia menunjuk Tan dan berkata: “Kalau saya tiada berdaya lagi, maka kelak pimpinan nasional akan saya serahkan kepada saudara”.
Dr. Soeharto juga menerangkan bahwa dalam pertemuan empat mata di rumahnya pada malam Lebaran itu, berlangsung pembicaraan soal siapa yang akan memegang kepemimpinan nasional seandainya Sukarno dan Hatta secara fisik tidak dapat melanjutkannya karena dibunuh atau ditawan oleh Jepang, Belanda, atau Sekutu.
“Secara lisan Bung Karno mengatakan akan membuat testamen berisikan penunjukan siapa yang akan meneruskan pimpinan nasional, jika terjadi hal-hal seperti tersebut di atas,” kata Soeharto.





