
Dan sejak 7 Oktober 2023, Israel telah memblokir akses ke daerah perbatasan, yang merupakan lokasi dua tempat pembuangan sampah utama di Jalur Gaza, Juhr al-Dik. Penampungan sampah ini melayani wilayah utara, dan Al Fujari, yang melayani wilayah tengah dan selatan.
UNRWA memperkirakan, hingga 10 Juni 2024 ini, lebih dari 330.000 ton sampah padat telah terkumpul. Jumlah yang cukup untuk memenuhi 150 lapangan sepak bola. Ditambah lagi rata-rata 2.000 ton lebih per hari.
“Kami setiap hari meminta akses ke tempat pembuangan sampah kepada pihak berwenang Israel, namun permintaan kami ditolak, sehingga sampah benar-benar menumpuk di mana-mana,” ungkap Wateridge.
Dalam penelitian yang diterbitkan baru-baru ini oleh LSM Belanda, Pax, terdapat setidaknya 225 tempat pembuangan sampah informal di seluruh Jalur Gaza, termasuk 14 tempat pembuangan sampah darurat yang ditetapkan oleh PBB.
Organisasi itu mengakui bahwa kemungkinan besar angka sebenarnya lebih tinggi lagi. Sebab, tempat pembuangan sampah yang lebih kecil mungkin tidak terlihat dalam citra satelit yang mereka gunakan untuk menyisir daerah tersebut.
Risiko bagi masyarakat yang sudah rentan sangat besar, kata Pax dalam laporan “Perang dan Sampah di Gaza”.
Risiko itu, menurut Pax, mulai dari penyakit pernapasan akibat menurunnya kualitas udara karena pembakaran sampah dan bau sampah yang membusuk, hingga bahaya yang dihadapi orang-orang yang menggali sampah—tempat mereka terpapar limbah medis yang beracun maupun limbah industri.
Selain itu, sebagaimana laporan Pax, terdapat pula risiko “sup kimia”, yang terdiri dari bahan organik terlarut, komponen anorganik, logam berat, dan senyawa organik xenobiotik akan mencemari lahan pertanian dan akuifer. “Yang pada akhirnya memungkinkan zat beracun menembus rantai makanan dan kembali ke manusia,” demikian Pax memperingatkan.
Dan sudah lazim jika di mana ada sampah, di situ ada parasit dan serangga. Kecoa, lalat, nyamuk, cacing, dan kalajengking, semua datang ke tempat sampah terkumpul dan menyelinap melalui celah-celah tenda berbahaya tempat ratusan ribu orang bertahan hidup.
“Mereka ada dimana-mana,” juru bicara UNRWA memperingatkan.
“Saat ada lalat, naluri alami kita adalah mengusirnya. Kita bahkan tidak memikirkannya. Di sini saya melihat anak-anak di rumah sakit dengan 10 atau 15 lalat terbang di sekitar kepala mereka dan mereka bahkan tidak terganggu karena terbiasa dengan serangga tersebut.”
Sarang Infeksi
Kondisi tersebut mengubah Jalur Gaza menjadi sarang infeksi. Menurut laporan UNRWA, bejibun penyakit seperti hepatitis A, kudis, disentri atau diare akut umum melanda penduduk wilayah tersebut. Para dokter pun khawatir, dengan meningkatnya suhu, wabah kolera akan merebak jika kondisi tersebut tidak berubah.
Otoritas Kesehatan Gaza bahkan mengklaim telah mendeteksi virus polio dalam sampel air limbah yang dikumpulkan di Jalur Gaza.





