Blokade Israel Menghadirkan Bencana Sampah dan Limbah, Sarang Infeksi, serta Krisis Air bagi Warga Gaza  

Tumpukan sampah di bertebaran di Gaza. (Foto: Getty Images)
GAZA—Blokade panjang dan serangan Israel ke Jalur Gaza membuat kehidupan warga Palestina di wilayah tersebut berubah menjadi “mengerikan.” Sampah menggunug di mana-mana, air limbah mengalir ke segala penjuru, bau busuk menyengat setiap saat.  

Infeksi dan penyakit menjalar di wilayah yang kini menghadapi suhu harian lebih dari 35 derajat Celsius dan pasokan air yang terbatas tersebut.

Louise Wateridge, juru bicara Badan Bantuan dan Pekerjaan PBB untuk Pengungsi Palestina di Timur Tengah (UNRWA), menggambarkan Gaza kini ibarat “neraka di Bumi” bagi 2,2 juta penduduknya.

Israel sendiri menolak laporan dari berbagai lembaga kemanusiaan dan LSM mengenai situasi yang sangat tidak manusiawi tersebut. Alih-alih memperhatikan, Israel malah menuduh beberapa pegawai UNRWA memiliki hubungan dengan Hamas dan Jihad Islam, sehingga parlemen negara mayoritas Yahudi tersebut bakal menetapkan UNRWA sebagai teroris.

Bacaan Lainnya

Tuduhan ini belum terbukti secara independen, namun menyebabkan sekelompok negara donor menarik dana dari organisasi tersebut pada Januari lalu.

“Situasinya sangat buruk dalam hal penyakit, sanitasi dan kebersihan,” kata Wateridge, sebagaimana dilansir BBC Mundo dari kamp pengungsi Nuseirat, di Gaza tengah, dikutip pada Sabtu (27/7/2024).

“Ratusan ribu orang hidup dalam kondisi yang penuh sesak dan tidak sehat,” imbuhnya.

Bencana Sampah

“Saat ini saya sedang melihat ke luar jendela, ke tumpukan sekitar 100.000 ton sampah, tepat di depan pintu saya, tempat anjing sedang menggali. Dan saya juga sering melihat anak-anak mengais [sampah] untuk mencari makanan, bahan-bahan untuk membuat tempat berteduh, atau benda-benda yang dapat dijadikan bahan bakar karena tidak ada gas untuk memasak,” kata Wateridge.

Sampah yang membusuk dan bau menjadi sarang tikus serta segala jenis serangga. Semua itu bertebaran di mana-mana.

Bahkan, sejak sebelum perang, akibat blokade Israel terhadap Jalur Gaza pada tahun 2007, jumlah truk sampah di Gaza atau peralatan untuk memilah dan mendaur ulang sampah di perkotaan sebenarnya juga tidak mencukupi.

Di Gaza adalah hal biasa melihat anak-anak mencari makanan di tumpukan sampah atau mencari barang-barang yang dapat digunakan sebagai bahan bakar dari tumpukan itu. (Foto: Getty Images)

Dan sejak 7 Oktober 2023, Israel telah memblokir akses ke daerah perbatasan, yang merupakan lokasi dua tempat pembuangan sampah utama di Jalur Gaza, Juhr al-Dik. Penampungan sampah ini melayani wilayah utara, dan Al Fujari, yang melayani wilayah tengah dan selatan.

UNRWA memperkirakan, hingga 10 Juni 2024 ini, lebih dari 330.000 ton sampah padat telah terkumpul. Jumlah yang cukup untuk memenuhi 150 lapangan sepak bola. Ditambah lagi rata-rata 2.000 ton lebih per hari.

“Kami setiap hari meminta akses ke tempat pembuangan sampah kepada pihak berwenang Israel, namun permintaan kami ditolak, sehingga sampah benar-benar menumpuk di mana-mana,” ungkap Wateridge.

Dalam penelitian yang diterbitkan baru-baru ini oleh LSM Belanda, Pax, terdapat setidaknya 225 tempat pembuangan sampah informal di seluruh Jalur Gaza, termasuk 14 tempat pembuangan sampah darurat yang ditetapkan oleh PBB.

Organisasi itu mengakui bahwa kemungkinan besar angka sebenarnya lebih tinggi lagi. Sebab, tempat pembuangan sampah yang lebih kecil mungkin tidak terlihat dalam citra satelit yang mereka gunakan untuk menyisir daerah tersebut.

Risiko bagi masyarakat yang sudah rentan sangat besar, kata Pax dalam laporan “Perang dan Sampah di Gaza”.

Risiko itu, menurut Pax, mulai dari penyakit pernapasan akibat menurunnya kualitas udara karena pembakaran sampah dan bau sampah yang membusuk, hingga bahaya yang dihadapi orang-orang yang menggali sampah—tempat mereka terpapar limbah medis yang beracun maupun limbah industri.

Selain itu, sebagaimana laporan Pax, terdapat pula risiko “sup kimia”, yang terdiri dari bahan organik terlarut, komponen anorganik, logam berat, dan senyawa organik xenobiotik akan mencemari lahan pertanian dan akuifer. “Yang pada akhirnya memungkinkan zat beracun menembus rantai makanan dan kembali ke manusia,” demikian Pax memperingatkan.

Dan sudah lazim jika di mana ada sampah, di situ ada parasit dan serangga. Kecoa, lalat, nyamuk, cacing, dan kalajengking, semua datang ke tempat sampah terkumpul dan menyelinap melalui celah-celah tenda berbahaya tempat ratusan ribu orang bertahan hidup.

“Mereka ada dimana-mana,” juru bicara UNRWA memperingatkan.

“Saat ada lalat, naluri alami kita adalah mengusirnya. Kita bahkan tidak memikirkannya. Di sini saya melihat anak-anak di rumah sakit dengan 10 atau 15 lalat terbang di sekitar kepala mereka dan mereka bahkan tidak terganggu karena terbiasa dengan serangga tersebut.”

Sarang Infeksi

Kondisi tersebut mengubah Jalur Gaza menjadi sarang infeksi. Menurut laporan UNRWA, bejibun penyakit seperti hepatitis A, kudis, disentri atau diare akut umum melanda penduduk wilayah tersebut. Para dokter pun khawatir, dengan meningkatnya suhu, wabah kolera akan merebak jika kondisi tersebut tidak berubah.

Otoritas Kesehatan Gaza bahkan mengklaim telah mendeteksi virus polio dalam sampel air limbah yang dikumpulkan di Jalur Gaza.

Air limbah menyebar di seluruh Gaza. (Foto: Getty Images)

Informasi tersebut dikuatkan oleh Israel sendiri, di mana otoritas negara tersebut telah memerintahkan agar semua tentara yang dikerahkan di wilayah tersebut divaksinasi atau menerima dosis booster.

Penduduk ‘wilayah sampah’ itu juga mengatakan bahwa bau dari berton-ton sampah yang menumpuk dan mayat-mayat yang tertimbun di bawah reruntuhan—yang saat ini tidak mungkin untuk dievakuasi—sungguh tak tertahankan.

Diperparah lagi dengan air limbah yang keluar dari pipa-pipa yang pecah akibat bom dari Israel, sehingga tidak dapat mencapai instalasi pengolahan yang juga telah hancur akibat serangan tentara Israel.

Sebagian besar masalah ini disebabkan oleh hancurnya jaringan infrastruktur air dan sanitasi di Jalur Gaza.

Krisis Air

Menurut laporan terbaru lembaga Oxfam, warga Gaza hampir tidak memiliki akses terhadap 4,74 liter air per orang per hari—jumlah yang sebenarnya setara dengan jumlah air ketika menyiram toilet—untuk minum, memasak atau mencuci.

“Jumlah ini kurang dari sepertiga standar minimal air minum yang dinilai masyarakat internasional dibutuhkan dalam situasi darurat (15 liter), dan 94 persen lebih sedikit dari jumlah yang mereka miliki sebelum perang,” terang Lama Abdul Samad, pakar air dan sanitasi Oxfam dan penulis laporan, sebagaimaba dilansir BBC Mundo.

Di tengah banjir limbah, warga Gaza mengalami krisis air bersih. (Foto: Getty Images)

Sedangkan meburut WHO, dalam situasi normal, lembaga kesehatan dunia ini merekomendasikan antara 50 hingga 100 liter air per orang per hari untuk memenuhi kebutuhan dasar dan menghindari masalah kesehatan.

Menurut PBB, 90 persen penduduk Gaza terpaksa mengungsi, dan banyak dari mereka tinggal di tempat penampungan yang terbuat dari plastik, kain, dan sampah apapun yang bisa ditemukan warga.

Tempat berteduh yang tidak melindungi dari panas, bau, “atau dari tikus dan serangga yang berlarian ke mana pun Anda melihat; Siapa pun yang Anda ajak bicara di sini memberi tahu Anda tentang gigitan kalajengking, nyamuk, atau lalat,” jelas Louise Wateridge.

Sejauh ini, serangan Israel dilaporkan telah menewaskan hampir 39.000 orang di Gaza. Fatwa Mahkamah Internasional (International Court Justice/IJC) tak cukup untuk membuat Israel menghentikan kekejamannya.*

 

Pos terkait