Han Kang, seorang penulis perempuan dari Korea Selatan, menjadi sorotan dunia setelah menyabet hadiah Nobel Sastra 2024. Alih-alih menunjukkan suka cita atas pencapaiannya, Kang justru menolak mengadakan konferensi pers.
Penolakan Han ini menyusul tragedi global yang sedang berlangsung akibat perang Ukraina-Rusia dan genosida Israel terhadap warga Palestina.
Han Kang adalah penulis novel bertema kemanusiaan berjudul Human Acts (2014) dan The Vegetarian (2007), dan sebuah antologi pulisi berjudul Wind is Blowing (2010). Dia mengangkat nilai-nilai humanisme dengan apik dalam karya-karyanya tersebut. Lantaran itulah dia mendapatkan anugerah Nobel Sastra.
Setelah menerima penghargaan, penerbit buku-bukunya, Changbi Publishers dan Munhakdongne Publishing, mengusulkan untuk mengadakan konferensi pers. Namun, sang penulis menolaknya, dengan alasan tidak pantas menggelar sebuah perayaan ketika di muka bumi ini perang masih berkecamuk.
Ayah Han, Han Seung-won (85), yang juga merupakan seorang novelis terkenal, juga sempat mengusulkan kepada Han untuk mengadakan pesta perayaan capaiannya dengan para penduduk di lingkungan rumah tinggal mereka. Namun, lagi-lagi, ide tersebut ditolak oleh Han Kang dengan alasan perang yang masih terjadi.
“Saya berencana untuk mengadakan pesta di sini untuk penduduk setempat, tetapi putri saya melarang saya. Ia berkata, ‘Tolong jangan berpesta saat menyaksikan peristiwa tragis ini (merujuk pada dua perang). Akademi Swedia tidak memberi saya penghargaan ini untuk kita nikmati, tetapi agar kita lebih berpikiran jernih.’ Setelah mendengar itu, saya merasa sangat terganggu,” kata Seung-won.
Namun demikian, Han Seung-won tetap mengadakan konferensi pers di Sekolah Sastra Han Seung-won di Jangheung, mewakili putrinya. Pada kesempatan itu, dia menyampaikan, “(Han) mengatakan kepada saya, ‘Dengan perang yang semakin intensif dan orang-orang mati setiap hari, bagaimana kita bisa mengadakan perayaan atau konferensi pers?’ Dia mengatakan dia tidak akan mengadakan konferensi pers,” katanya, dikutip dari The Korea Times.





