Lomba Baca Kitab Fikih Politik digelar Forum Percepatan Transformasi Pesantren (FPTP) dan DPP PKB untuk tunjukkan pesantren tak hanya bicara ibadah, tapi juga kebangsaan.
Forum Percepatan Transformasi Pesantren (FPTP) bersama Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) menggelar lomba membaca kitab kuning bidang Fikih Politik (Fiqh al-Siyasi). Ajang ini memperebutkan Piala Menteri Koordinator Bidang Pemberdayaan Masyarakat (Menko PM) Abdul Muhaimin Iskandar, tiket umrah, dan beasiswa ke Al-Azhar Mesir.
“Hadiah pertama umrah dan memperebutkan Piala Menteri Koordinator Bidang Pemberdayaan Masyarakat. Ada juga beasiswa studi ke Mesir dan uang pembinaan bagi para pemenang,” ujar Direktur FPTP Saifullah Ma’shum di Jakarta, Rabu (15/10).
Menurut Saifullah, lomba ini menunjukkan karakter pesantren sebagai pusat kajian ilmu Islam yang tetap relevan lintas zaman. “Santri setiap hari mengkaji teks-teks klasik, dan kitab-kitab yang ditulis hampir seribu tahun lalu masih sangat kontekstual dengan kondisi saat ini,” jelasnya.
Kegiatan ini juga digelar untuk memperingati Hari Santri Nasional 22 Oktober 2025 serta merespons opini negatif tentang pesantren. “Kami sadar dunia pesantren sedang menghadapi banyak cobaan, seperti musibah di Al-Khoziny dan Lampung Selatan. Sayangnya, oleh sebagian pihak itu dijadikan bahan olok-olok seolah pesantren tak layak jadi tempat mencerdaskan bangsa,” tegas Saifullah.
Pengasuh Ponpes Kreatif Baitul Kilmah, KH Aguk Irawan, menilai lomba ini menjadi ruang bagi santri untuk memadukan khazanah Islam klasik dengan teori politik Barat. “Misalnya, santri menafsirkan Imam al-Mawardi, Al-Juwaini, dan Ibnu Taimiyyah dengan Plato,” ujarnya.
Sementara Imam Nawawi, Sekretaris Jaringan Kiai Santri Nasional (JKSN) DIY sekaligus juri lomba, menilai kegiatan ini penting untuk merevitalisasi intelektual pesantren. “Santri punya peluang menyampaikan aspirasi politik umat berbekal perspektif ulama salaf dalam konteks kekinian,” kata Imam, Kamis (16/10/2025).





