Bahas Perjuangan Hamas Lawan Penjajah Israel, Yon Machmudi Dikukuhkan Jadi Guru Besar Tetap Bidang Ilmu Sejarah UI

DEPOK — Yon Machmudi, seorang pakar sejarah dan pengamat politik Timur Tengah, resmi dikukuhkan sebagai Guru Besar Tetap Ilmu Sejarah di Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya, Universitas Indonesia (UI), pada Rabu (9/10/2024). Acara yang berlangsung di Balai Sidang Kampus UI, Depok, ini juga menjadi momen penting bagi Mahjus Ekananda dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis UI yang turut dikukuhkan dengan pembahasan terkait ekonomi global.
Yon Machmudi, Ph.D menyampaikan pidatonya dalam pengukuhan Guru Besar Tetap Bidang Ilmu Sejarah Universitas Indonesia , Rabu, 9 Oktober 2024, di Balai Sidang UI. (Foto: Dok. Samudrafakta).

Dalam pidato pengukuhannya yang berjudul “Satu Tahun Perang di Gaza: Refleksi Sejarah Pendudukan Israel di Palestina,” Yon mengupas perang yang pecah pada 7 Oktober 2023, ketika Hamas meluncurkan serangan mengejutkan ke wilayah perbatasan Gaza dan Israel. Serangan itu menewaskan sekitar 1.200 orang Israel dan menjadikan 250 orang sandera. Yon menyoroti respons Israel yang tidak kalah dahsyat, menghancurkan Gaza dengan korban sipil terus berjatuhan, terutama anak-anak dan perempuan. Hingga kini, korban dari pihak Palestina disebutkan mencapai 80.000 jiwa.

Yon menyatakan bahwa penggunaan istilah “pendudukan” dalam konteks Israel menurutnya kurang tepat, dan lebih akurat jika disebut sebagai “penjajahan”. Ia juga mempertanyakan hak Israel untuk membela diri (the right to defend) dalam situasi ini, sementara hak rakyat Palestina untuk melawan (the right to resist) sering kali diabaikan oleh dunia internasional.

Yon membagi sejarah konflik Israel-Palestina ke dalam tiga babak besar: pertama, periode 1948-1978 yang lebih terfokus pada isu bangsa Arab dan Liga Arab; kedua, periode 1979-2023 yang diwarnai oleh pergeseran isu menjadi bagian dari wacana Islam pasca Revolusi Iran; dan babak ketiga dimulai pada tahun 2023, yang menurutnya kini berpusat pada isu kemanusiaan universal. Ia mengkritik negara-negara Arab yang lebih banyak berfokus pada perlawanan terhadap Israel daripada mengupayakan kemerdekaan Palestina secara konkret.

Bacaan Lainnya

Pos terkait