Mengapa Ada Nakes yang Dinilai Kurang Empati? Pakar Unair Soroti Masalah Sistemik

Isu Nirempati Nakes
Ilustrasi dokter. (Pixabay)

Sikap ketus tenaga kesehatan tak selalu berakar pada karakter pribadi. Rasio pasien, beban kerja, dan tekanan finansial dinilai ikut menguras fisik serta emosi.

Sorotan publik terhadap sikap tenaga kesehatan (nakes) yang dinilai kurang empati kembali menjadi perbincangan hangat. Fenomena ini kerap memicu stigma negatif terhadap kualitas pelayanan kesehatan di Indonesia.

Menyoroti hal tersebut, Pakar Universitas Airlangga (Unair), Dr Andria Saptyasari SSos MA menegaskan ada faktor sistemik yang menyebabkan menurunnya kualitas interaksi antara nakes dan para pasien di fasilitas kesehatan.

Andria memaparkan bahwa sikap ketus nakes sering kali berakar pada tingginya beban kerja mereka. Di sisi lain, fasilitas kesehatan dari pemerintah, termasuk kuota layanan BPJS di berbagai rumah sakit, masih sangat terbatas. Ia menyebut, hal inilah yang membuat nakes rentan mengalami kelelahan fisik sekaligus pengurasan emosi setiap harinya.

Bacaan Lainnya

“Jumlah pasien itu kan banyak, sementara jumlah nakes itu kan perbandingannya tidak seimbang. Ketika rasio pasien lebih besar, sering kali nakes ini sudah terkuras tenaga dan emosinya saat menolong orang sakit,” ungkapnya, Selasa (18/8/2026).

Selain beban pelayanan, tingginya biaya pendidikan di Fakultas Kedokteran turut menyumbang tekanan tersendiri bagi para nakes. Demi menstabilkan kondisi finansial, banyak dokter terpaksa berpraktik di tiga instansi berbeda menggunakan tiga Surat Izin Praktik (SIP) setiap harinya. Tuntutan untuk terus berpindah tempat kerja dalam satu minggu ini menjadi faktor utama penyebab kelelahan.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan