Dukun Barus Tahu Lebih Dulu dari Kedokteran Modern

Datu Barus mewariskan pengetahuan obat dari kapur barus dan ratusan tanaman lain yang sebagian belum tersentuh laboratorium modern. ILUSTRASI AI GENERATE
Dua ribu tahun sebelum farmasi modern lahir, para datu di Barus sudah meracik obat dari pohon yang kini divalidasi jurnal ilmiah internasional. Yang belum terjawab: dari 166 tanaman yang mereka gunakan, 56 di antaranya belum pernah masuk laboratorium—apa yang masih kita lewatkan?

Barus bukan sekadar nama kota tua di pesisir barat Sumatera Utara. Bagi pedagang Arab, India, Cina, dan Mesir ribuan tahun lalu, Barus adalah tujuan—destinasi yang dikejar bukan karena posisinya di peta, melainkan karena satu komoditas: kristal putih dari pohon Dryobalanops aromatica yang kita kenal hari ini sebagai kapur barus.

Ptolemaeus sudah mencatatnya sekitar 160 Masehi. Para kartografer Renaisans mengabadikannya dalam peta. Dan di kota itulah, jauh sebelum ada apotek, para datu—penyembuh tradisional Barus—mengembangkan sistem pengobatan yang terstruktur: ada hierarki praktisi, ada proses diagnosis, ada ramuan yang diracik dari tumbuhan, hewan, dan mineral, ada etika yang mengatur segalanya.

Prof. Rusmin Tumanggor, Guru Besar Antropologi Kesehatan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, menghabiskan lebih dari empat tahun meneliti sistem ini untuk disertasinya di Universitas Indonesia. Ia menemukan 395 mantra jampi yang digunakan para datu—dalam bahasa Batak, Arab, Ibrani, bahkan Mandarin. Ini bukan takhayul yang diwariskan turun-temurun; ini adalah sintesis pengetahuan dari lintas peradaban.

Bacaan Lainnya

Dan sains modern kini membuktikannya satu per satu.

Senyawa aktif utama kapur barus, borneol, sudah dikonfirmasi punya aktivitas antibakteri, analgesik, antioksidan, dan neuroprotektif. Studi terbaru bahkan menemukan borneol mampu menembus sawar darah-otak—menjadikannya kandidat serius untuk terapi stroke. Analisis kimia pada mumi Mesir Kuno yang dipublikasikan di Journal of the American Chemical Society (2025) pun mendeteksi keberadaan borneol dalam bahan pembalseman, konsisten dengan catatan sejarah tentang kapur barus sebagai komoditas mewah peradaban kuno.

Masalahnya, pohon yang membuat Barus termasyhur itu kini berjuang untuk bertahan. IUCN mengklasifikasikannya sebagai Critically Endangered di Indonesia. Dan dari 166 spesies tumbuhan yang digunakan para datu, 56 di antaranya belum pernah masuk laboratorium farmasi modern.

Pengetahuan itu bisa ikut menghilang sebelum sempat kita pahami sepenuhnya.

Selengkapnya baca di sini.

Pos terkait