Iran resmi menolak putaran kedua perundingan damai dengan AS di Islamabad—dua hari sebelum gencatan senjata berakhir, Rabu 22 April 2026.
Teheran menyatakan tidak akan hadir dalam putaran kedua perundingan damai dengan Amerika Serikat (AS) di Islamabad, Pakistan. Keputusan itu disampaikan kantor berita resmi pemerintah Iran, IRNA, Ahad (19/4/2026).
“Ketidakhadiran Iran dalam putaran kedua perundingan bersumber dari tuntutan berlebihan Washington, harapan tidak realistis, perubahan sikap yang terus-menerus, kontradiksi berulang, dan blokade angkatan laut yang sedang berlangsung—yang dianggap sebagai pelanggaran gencatan senjata,” tulis IRNA melalui akun X resminya, Ahad (19/4/2026).
Teheran juga membantah pernah sepakat untuk berpartisipasi dalam putaran kedua. “Berita yang dipublikasikan tentang putaran kedua negosiasi di Islamabad tidak benar,” tegas IRNA, seraya menyebut pernyataan AS sebagai bagian dari “permainan media dan saling menyalahkan untuk menekan Iran.”
Insiden Kapal Jadi Pemicu
Ketegangan memuncak setelah Iran menembaki sejumlah kapal di Selat Hormuz pada Sabtu (18/4). AS lalu menyita kapal kargo Iran TOUSKA yang mencoba menembus blokade di Teluk Oman pada Ahad (19/4).
Merespons eskalasi itu, Trump menulis di Truth Social: “Kami menawarkan kesepakatan yang sangat adil dan masuk akal. Jika mereka tidak menerimanya, Amerika Serikat akan menghancurkan setiap pembangkit listrik dan setiap jembatan di Iran,” tulis Trump di Truth Social, Ahad (19/4/2026).
Jurang Tuntutan Masih Lebar
Isu nuklir menjadi salah satu batu sandungan terbesar. AS menuntut Iran menghentikan pengayaan uranium selama 20 tahun, sementara Iran hanya bersedia menangguhkan selama 5 tahun.
“Masih ada jarak yang sangat jauh di antara kami,” kata Kepala negosiator Iran Mohammad Baqer Qalibaf, sebagaimana dilaporkan Reuters, Ahad (19/4/2026), seraya menegaskan Iran tetap berkomitmen pada jalur diplomasi.
Di sisi lain, Iran menuntut penghentian total operasi militer AS, pencabutan sanksi, dan kompensasi atas kerusakan akibat perang. Selat Hormuz—jalur bagi seperlima pasokan minyak dunia—tetap menjadi titik sengketa utama.





