Di balik halal bihalal IKA PMII di Jakarta, aroma konsolidasi politik jelang Muktamar ke-35 NU tercium kuat—PKB disebut siapkan kader untuk geser kepemimpinan PBNU.
Pengurus Besar Ikatan Alumni Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PB IKA PMII) menggelar halal bihalal di Grand Mercure Kemayoran, Jakarta Pusat, Minggu (19/4/2026) malam. Acara yang sekilas tampak sebagai ajang silaturahmi itu dihadiri sejumlah tokoh nasional.
Namun di baliknya, tercium aroma konsolidasi politik yang kuat menjelang Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) yang dijadwalkan pada Juli atau Agustus 2026.
Ketua Umum Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) sekaligus Menko Pemberdayaan Masyarakat, Muhaimin Iskandar (Cak Imin), tampil dengan pesan tajam. “Kepemimpinan yang tidak solid, tidak produktif—nah ini harus menjadi keprihatinan kita semua,” kata Cak Imin dalam acara tersebut, Minggu (19/4/2026).
Ia juga menegaskan posisinya soal NU: “Ini kan organisasi ulama, ya. Ya harus ulama yang memimpin,” ucap Cak Imin.
PMII sebagai Motor Konsolidasi
Pesan senada meluncur dari Menteri Agraria dan Tata Ruang (ATR)/BPN, Nusron Wahid. Ia membenarkan bahwa pertemuan itu merupakan ajang konsolidasi.
“PMII ini adalah anak yang lahir dari rahim NU. Kalau kemudian PMII memikirkan NU, sudah menjadi kewajiban dan keharusan,” ujar Nusron, Minggu (19/4/2026).
Ia menambahkan, perbaikan yang dibutuhkan menyangkut visi, niat, dan kepemimpinan ke depan yang harus lebih baik.
Menteri Agama Nasaruddin Umar turut mengingatkan pentingnya strategi yang matang. “Tidak bisa lagi kita seperti dulu-dulu, emosional spontanitas. Kita harus punya strategi, punya perhitungan-perhitungan,” kata Nasaruddin, Minggu (19/4/2026).
Empat Nama Beredar, PKB Membidik Kursi PBNU
Di tengah ketegangan antara PBNU di bawah KH Yahya Cholil Staquf dan PKB pimpinan Cak Imin, pertemuan IKA PMII ini dinilai bukan sekadar silaturahmi biasa.
Sejumlah kalangan menyebut PKB tengah menyiapkan empat figur kader untuk bersaing memperebutkan kursi Ketua Umum PBNU: KH Abdul Salam Shohib (Gus Salam), KH Yusuf Khudori, KH Imam Jazuli, dan KH Zulfa Mustofa.
Keempatnya mewakili berbagai kekuatan di tubuh Nahdliyin—dari kalangan pesantren, struktural, hingga ideologis.
Muktamar ke-35 NU bukan sekadar rotasi ketua umum—melainkan arena penentu arah relasi NU dan PKB untuk satu dekade ke depan.***





