Musim Hujan, Musim Ujian Daya Tahan Tubuh

Ilustrasi nyamuk penyebar penyakit musim hujan. — Pixabay
Hujan yang turun berhari-hari bukan hanya membawa genangan, tetapi juga membuka pintu bagi penyakit yang menunggu lengahnya tubuh manusia.

Memasuki puncak musim hujan, risiko gangguan kesehatan meningkat tajam. Udara lembap, air yang tergenang, serta sanitasi yang kerap terabaikan menciptakan kondisi ideal bagi penyebaran penyakit menular. Menurut Ira Purnamasari, dosen Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Muhammadiyah Surabaya, infeksi saluran pernapasan atas (ISPA) bukan satu-satunya ancaman yang mengintai masyarakat di musim ini.

“Selain ISPA, ada beberapa penyakit yang secara konsisten meningkat saat musim hujan,” ujarnya, dikutip Senin (19/1/2026).

Tifoid: Ancaman dari Meja Makan

Penyakit pertama adalah tipes atau demam tifoid, infeksi saluran pencernaan yang disebabkan oleh bakteri Salmonella typhi. Penyakit ini kerap menyebar diam-diam melalui jalur yang tampak sepele: makanan dan tangan manusia.

Bacaan Lainnya

Transmisi terjadi lewat tiga pintu utama. Pertama, konsumsi makanan atau minuman yang terkontaminasi bakteri. Kedua, perpindahan bakteri dari tangan ke mulut akibat kebiasaan higienitas yang buruk. Ketiga, pencemaran lingkungan—ketika kotoran individu yang terinfeksi mencemari sungai atau sumber air yang digunakan sehari-hari.

Begitu bakteri masuk ke saluran pencernaan, tubuh merespons dengan gejala yang tidak ringan. Suhu tubuh naik turun, disertai nyeri kepala, nyeri otot, nyeri perut kanan atas, mual, muntah, hingga diare. Pada kondisi berat, tifoid dapat memicu perdarahan usus, syok, bahkan penurunan kesadaran.

Leptospirosis: Bahaya yang Mengalir Bersama Air

Jika tifoid datang dari dapur, leptospirosis mengintai dari genangan air. Penyakit ini disebabkan oleh bakteri Leptospira dengan tikus sebagai reservoir utama. Urine tikus yang terinfeksi menjadi sumber penularan paling patogen, mencemari air dan tanah di sekitarnya.

Bakteri masuk ke tubuh manusia melalui luka kecil di kulit—celah yang sering diabaikan. Musim hujan memperbesar risiko karena Leptospira mampu bertahan hidup di air selama berbulan-bulan.

Gejalanya kerap muncul mendadak: demam tinggi disertai menggigil, nyeri kepala dan otot, mual, serta muntah. Pada fase lanjutan, penyakit ini dapat berkembang menjadi batuk, nyeri dada, batuk darah, hingga penurunan kesadaran. Tanpa penanganan cepat, leptospirosis bisa berujung fatal.

Pos terkait