Serangan Israel di Gaza sejak Kamis dinihari, 26 Juni 2025, menewaskan 78 orang, termasuk warga yang antre bantuan. Di tengah janji damai Trump, Gaza malah makin berdarah. Harapan gencatan senjata pun jadi tanda tanya.
__________
Di tengah malam yang seharusnya menjadi waktu istirahat, suara tembakan dan ledakan kembali mengguncang Gaza. Sejak Kamis dinihari, 26 Juni 2025, sedikitnya 78 nyawa melayang dalam serangan militer Israel, termasuk 14 orang yang tewas tragis saat tengah mengantre bantuan kemanusiaan.
Di sebuah titik distribusi yang dikelilingi kendaraan lapis baja dan tank, mereka tak pernah menyangka antrean untuk sekarung makanan akan menjadi antrean terakhir dalam hidup mereka.
Ironisnya, serangan ini terjadi hanya beberapa jam setelah Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menyampaikan pernyataan optimistis soal “kemajuan besar” dalam upaya gencatan senjata. Namun di lapangan, harapan itu terasa seperti lelucon pahit.
Gaza Humanitarian Foundation (GHF)—lembaga distribusi bantuan yang didukung AS dan Israel—justru menuai kritik tajam. Badan-badan PBB dan lembaga kemanusiaan menilai GHF gagal memenuhi kebutuhan rakyat Gaza, dan malah menambah risiko bagi mereka yang datang mencari bantuan.
Menurut laporan jurnalis Al Jazeera, Hani Mahmoud, warga Gaza hanya diberi waktu 20 menit untuk mengambil bantuan. Setelah itu, rentetan peluru sering terdengar. “Mereka datang mencari hidup, tapi malah dijemput kematian,” ujarnya lirih.
Serangan tak hanya menyasar titik bantuan. Wilayah pemukiman seperti Deir el-Balah dan kamp pengungsi Nuseirat ikut menjadi sasaran. Lima orang dari satu keluarga tewas seketika di Deir el-Balah, dan tiga lainnya di Nuseirat.
Seorang warga, Ramzi Khaled, masih terguncang saat menceritakan kehancuran tempat pengungsian dekat stasiun al-Shawwa. “Tak ada peringatan. Bom jatuh, dan bangunan itu langsung lenyap bersama para penghuninya.”
Di rumah-rumah sakit Gaza, situasinya tak kalah pilu. Pasokan medis nyaris habis, ruang perawatan penuh sesak, dan tenaga kesehatan bekerja tanpa henti. Kementerian Kesehatan Gaza menggambarkan situasi ini sebagai “bencana kemanusiaan total.” Lebih dari 56 ribu orang telah tewas sejak awal perang, dan ratusan ribu lainnya terluka.
Di sisi lain, Israel juga mengklaim berduka. Tujuh tentaranya tewas dalam pertempuran sengit, sebagian besar dari mereka berusia belia—baru 19 hingga 21 tahun.
Di tengah tragedi, secercah harapan tetap menggantung. Qatar dan Mesir mulai memediasi jalur negosiasi antara Israel dan Hamas. Pihak Hamas menyebut pembicaraan makin intensif, meski belum ada tawaran resmi yang bisa mengakhiri perang.
Sementara itu, dari Den Haag, Trump menegaskan bahwa serangan AS ke fasilitas nuklir Iran telah membuka jalan menuju perdamaian Gaza. Ia bahkan menyebut kesepakatan damai sudah “sangat dekat,” didukung laporan dari utusan khusus AS untuk Timur Tengah, Steve Witkoff.
Benarkah jalan menuju damai tinggal selangkah lagi? Atau justru ini hanya jeda sebelum…***





