Harga minyak dunia melonjak usai serangan udara AS ke fasilitas nuklir Iran, memicu kekhawatiran pasar global. Analis memprediksi potensi kenaikan hingga USD10 per barel.
__________
Harga minyak dunia melonjak tajam pada awal perdagangan Senin, 23 Juni 2025, menyusul serangan udara Amerika Serikat (AS) terhadap situs nuklir Iran. Kekhawatiran terhadap gangguan pasokan energi global mendorong kenaikan harga komoditas tersebut.
Mengutip kantor berita AFP, harga minyak mentah Brent dan West Texas Intermediate (WTI) sempat melesat lebih dari 4 persen saat pasar dibuka, menyentuh level tertinggi sejak Januari 2025.
Namun, kenaikan itu kemudian terkoreksi. Pada pukul 07.30 WIB, Brent tercatat naik 2,2 persen menjadi USD79,20 per barel, sementara WTI menguat 2,1 persen ke posisi USD75,98 per barel.
Para ekonom dari MUFG memperingatkan bahwa tingginya ketidakpastian terkait eskalasi konflik dan durasi perang dapat mendorong lonjakan harga minyak hingga USD10 per barel.
Sebagai informasi, Iran merupakan produsen minyak terbesar kesembilan di dunia dengan produksi sekitar 3,3 juta barel per hari. Hampir separuhnya diekspor, sementara sisanya digunakan untuk kebutuhan dalam negeri.
Iran Siap Tutup Selat Hormuz, Jalur Vital Minyak Dunia Terancam
Lonjakan harga minyak ini menyusul persetujuan Parlemen Iran terhadap rencana penutupan Selat Hormuz pada Ahad, 22 Juni, sebagaimana dilaporkan oleh Al Arabiya dan sejumlah media resmi di Iran.
Hossein Shariatmadari, yang dikenal sebagai perwakilan dari Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei, menyerukan aksi balasan terhadap serangan AS pada Sabtu malam, 21 Juni waktu setempat—atau Ahad dinihari WIB. Termasuk menyerukan kemungkinan pemblokiran Selat Hormuz untuk kapal-kapal militer dan dagang dari AS, Inggris, Jerman, dan Prancis.
Keputusan akhir pemblokiran berada di tangan lembaga keamanan nasional tertinggi Iran.
Menurut Mintnews, Selat Hormuz merupakan jalur pelayaran krusial yang dilewati oleh sekitar 20 persen distribusi minyak global.





