Ternyata Seranggga dan Alang-Alang Bisa Jadi Senjata Biologis untuk Dukung Pertanian dan Ketahanan Pangan. Bagaimana Bisa?

Ilustrasi penelitian tentang manfaat serangga dan alang-alang untuk mendukung pertanian. | Sora/Samudra Fakta
Serangga dan alang-alang bagi kebanyakan petani dianggap sebagai “pengganggu” tanaman padi. Tapi, di tangan peneliti Institut Pertanian Bogor (IPB) Universtiy, serangga dan alang-alang justru diangkat sebagai ‘senjata biologis’.

__________

Guru Besar Fakultas Pertanian IPB University, Prof. Purnama Hidayat, melakukan riset pengembangan teknologi pendukung pertanian dengan merancang perangkat lunak identifikasi serangga berbasis digital bernama LUCID.

Penelitian ini pun mengungkap bahwa serangga dapat menjadi aset strategis bagi ketahanan pangan dan pelestarian lingkungan di masa depan.

Bacaan Lainnya

Teknologi LUCID diklaim mampu mempercepat proses pengenalan spesies hingga 50 persen lebih efisien dibandingkan metode konvensional.

“Perangkat ini memudahkan siapa pun untuk belajar mengenali serangga tanpa harus menjadi ahli taksonomi,” ungkapnya, dalam Konferensi Pers Pra Orasi Ilmiah Guru Besar IPB University yang digelar melalui zoom, Kamis, 22 Mei 2025.

Guru Besar Fakultas Pertanian IPB University, Prof Purnama Hidayat. / IPB Uviversity

Serangga, yang mencakup sekitar 80 persen dari seluruh spesies hewan di bumi, kata Purnama, memiliki peran besar dalam ekosistem. Secara biomassa, keberadaan mereka jauh melampaui total berat manusia.

“Secara biomassa, berat total serangga dua setengah kali lipat lebih besar dari total biomassa manusia. Nilai ekonomi dari jasa ekologi yang mereka berikan pun sangat besar. Nilai ekonomi dari jasa ekologis yang diberikan oleh serangga bahkan diperkirakan mencapai hampir Rp3.760 triliun, atau sekitar tiga kali lipat dari APBN Indonesia tahun 2025”, ungkap penelitian itu.

Di sisi lain, hama serangga juga menjadi penyebab kerugian hingga 30 persen hasil pertanian, dan penggunaan pestisida untuk mengatasinya justru memperburuk keseimbangan alam. Karena itu, pendekatan berbasis ekologi seperti yang dikembangkan IPB University bisa semakin relevan.

Potensi serangga tidak hanya terbatas pada peran ekologis. Beberapa spesies, seperti lalat tentara hitam dan ulat sagu, juga mulai dimanfaatkan sebagai sumber protein alternatif.

Dengan pengelolaan yang tepat, serangga dapat menjadi aset strategis bagi ketahanan pangan dan pelestarian lingkungan di masa depan.

“Serangga adalah makhluk kecil dengan dampak yang luar biasa. Jika dimanfaatkan dan dikelola dengan bijak, mereka bisa menjadi kunci keberlanjutan ekosistem dan pertanian kita,” kata Purnama.

Pos terkait