Tiga Mesin Ekonomi RI: Strategi Besar atau Ujian Ketahanan Baru?

Tiga mesin pertumbuhan—hilirisasi, pangan, dan SDM—diposisikan sebagai fondasi ekonomi baru Indonesia. Tantangannya kini bukan pada desain kebijakan, melainkan daya tahan implementasinya di tengah ketidakpastian global.
Pemerintah mengandalkan hilirisasi, pangan, dan SDM untuk menopang ekonomi nasional.

Pemerintah menegaskan arah transformasi ekonomi nasional melalui tiga mesin utama pertumbuhan: hilirisasi industri, ketahanan pangan, dan pengembangan sumber daya manusia (SDM). Strategi ini diposisikan sebagai fondasi menuju visi Indonesia maju sekaligus respons terhadap ketidakpastian ekonomi global.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan ketiga sektor tersebut menjadi pendorong utama pertumbuhan ekonomi nasional.

“Ketiga mesin ini untuk mendorong pertumbuhan ekonomi kita,” ujar Airlangga dalam kuliah umum di Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada, Sleman, Jumat (6/2/2026).

Bacaan Lainnya
Ketahanan Pangan di Tengah Krisis Global

Airlangga menekankan pentingnya kedaulatan pangan, terutama saat dunia menghadapi krisis geopolitik dan gangguan rantai pasok. Menurutnya, ketahanan pangan menjadi bantalan utama stabilitas nasional.

“Ketika terjadi krisis, kita harus punya stok pangan sendiri. Itu sebabnya fokus pada food estate dan sektor pertanian menjadi sangat penting,” kata Airlangga.

Pendekatan ini diarahkan untuk memastikan pasokan pangan domestik tetap aman, sekaligus mengurangi ketergantungan pada impor di saat situasi global memburuk.

Hilirisasi dan Nilai Tambah Domestik

Di sektor industri, pemerintah terus mendorong kebijakan hilirisasi untuk meningkatkan nilai tambah di dalam negeri. Airlangga menilai, langkah ini penting untuk mengurangi ketergantungan pada ekspor bahan mentah.

“Ini bertujuan untuk penciptaan nilai tambah sehingga daya saing produk kita semakin baik, investasi lebih banyak masuk, dan penyerapan tenaga kerja semakin meningkat,” ujarnya dalam kesempatan terpisah.

Hilirisasi juga diproyeksikan menjadi magnet investasi jangka panjang, khususnya di sektor manufaktur dan pengolahan sumber daya alam.

Transisi Energi dan Ekonomi Digital

Selain dua sektor tersebut, pemerintah mempercepat agenda pertumbuhan hijau melalui transisi energi. Airlangga menyebut pengembangan energi terbarukan, bioenergi, dan pembangunan jaringan listrik lintas wilayah atau Green Super Grid sebagai prioritas strategis.

Di sisi lain, ekonomi digital Indonesia disebut telah mencapai nilai sekitar US$90 miliar. Angka ini diproyeksikan melonjak hingga US$360 miliar pada 2030, seiring integrasi perdagangan digital di kawasan.

Ujian Implementasi dan Target Pertumbuhan

Meski prospektif, strategi tiga mesin pertumbuhan ini dijalankan di tengah ekonomi global yang belum sepenuhnya stabil. Airlangga mengingatkan bahwa pertumbuhan ekonomi sekitar 5 persen belum cukup untuk membawa Indonesia keluar dari jebakan negara berpendapatan menengah.

“Sehingga harus bisa didorong di kisaran 6–7 persen disertai investasi yang tumbuh sekitar 6,8 persen hingga dua dekade mendatang,” katanya.

Menuju Struktur Ekonomi Baru

Pengembangan SDM menjadi penopang utama keberlanjutan strategi tersebut. Airlangga menegaskan bahwa ketahanan ekonomi jangka panjang tidak bisa hanya bergantung pada sumber daya alam.

“Yang berkelanjutan itu bukan hanya berbasis sumber daya alam, tetapi berbasis sumber daya manusia,” ujarnya.

Arah kebijakan ini menunjukkan pemerintah tidak sekadar mengejar pertumbuhan jangka pendek, melainkan berupaya membangun struktur ekonomi yang lebih tahan terhadap guncangan. Tantangannya kini terletak pada kecepatan dan konsistensi implementasi di lapangan.***

Pos terkait