Surabaya memiliki sejarah panjang dalam pengembangan transportasi publik. Salah satu moda transportasi yang pernah berjaya adalah Angguna, singkatan dari “Angkutan Umum Niaga”. Masih ingat?
__________
Angguna mulai beroperasi pada tahun 1988 dan menjadi solusi mobilitas bagi warga Surabaya kala itu. Apalagi pada masa itu kendaraan pribadi belum menjamur, dan transportasi daring belum ada.
Pada dekade 1980-an, Surabaya menghadapi tantangan dalam penyediaan transportasi umum yang efisien dan terjangkau.
Sebelumnya, kendaraan seperti helicak—kendaraan roda tiga—dan oplet mendominasi jalanan kota. Namun, dengan perkembangan zaman dan kebutuhan terhadap kendaraan yang lebih aman dan nyaman, pemerintah kota memperkenalkan Angguna sebagai alternatif.
Menurut penelitian Mohammad Riyan Firdaus dan Sri Mastuti Purwaningsih dalam jurnal Avatara, peralihan dari sopir helicak ke sopir Angguna memberikan dampak positif terhadap kesejahteraan mereka.
Dalam artikel yang dilansir dari ejournal.unesa.ac.id itu, para sopir melaporkan peningkatan pendapatan yang memungkinkan mereka untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Misalnya, membiayai pendidikan anak, bahkan membeli kendaraan pribadi seperti sepeda motor.
Dilansir dari Otosia, pada puncak kejayaannya sekitar tahun 1992, jumlah armada Angguna mencapai 150 unit. Kendaraan ini menawarkan tarif yang lebih murah dibandingkan taksi, namun dengan kenyamanan yang lebih tinggi dibandingkan mikrolet atau lyn.
Desain Angguna yang lebih panjang memungkinkan kapasitas penumpang yang lebih banyak dan fleksibilitas dalam mengangkut barang.
Seiring perkembangan teknologi dan munculnya transportasi berbasis aplikasi, popularitas Angguna mulai menurun.
Dikutip dari Tagar.id, pada tahun 2014, banyak armada Angguna yang berhenti beroperasi karena kalah bersaing dengan moda transportasi lain yang lebih modern dan efisien.
MEski tidak lagi menjadi pilihan utama transportasi, Angguna tetap menjadi bagian penting dari sejarah transportasi Surabaya. Salah satu unit Angguna kini dipajang di Museum Surabaya, lantai 1 gedung Siola, sebagai pengingat akan peranannya dalam mobilitas warga kota pada masanya, seperti yang dilaporkan Otosia. ***





