Indonesia bakal makin banyak menyerap barang impor dari Amerika Serikat (AS). Bakal lebih banyak lagi gandum, kedelai, jagung, hingga pesawat Boeing yang bakal diimpor dari Amerika.
__________
Menurut Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati, penyerapan itu untuk menyeimbangkan defisit neraca perdagangan AS terhadap Indonesia.
Sebagai informasi, defisit neraca perdagangan antara AS dengan Indonesia pada 2024 mencapai USD18 miliar. Angka itu disebut membuat Presiden AS, Donald Trump, geram hingga mengenakan tarif dagang tinggi terhadap Indonesia—yang besarnya antara 32 – 47 persen.
Tarif resiprokal tersebut adalah bagian dari kebijakan perang dagang yang diluncurkan Trump kepada negara-negara mitra dagang utamanya—terutama negara yang dianggap memiliki catatan defisit perdagangan tinggi dengan AS.
“Beberapa komoditas serta produk manufaktur yang dapat kita gunakan untuk persempit atau kurangi, atau bahkan hilangkan surplus ini,” kata Sri Mulyani, sebagaimana dilansir dari program First On CNBC, dikutip Senin, 28 April 2025.
Jenis Produk yang Bakal Dioptimalkan Impornya
Kata Sri Mulyani, produk pertama yang bakal jai prioritas adalah produk agrikultur, seperti gandum, kedelai, dan jagung.
Sri Mulyani mengaku yakin bahwa, di Amerika Serikat, produk pertanian berupa gandum, kedelai, dan jagung memainkan peran penting dalam banyak konstituen di AS.
“Ini semua adalah produk makanan atau produk pertanian yang juga dikonsumsi di Indonesia secara signifikan. Dan kami mengimpor tidak hanya dari Amerika Serikat, tetapi juga banyak negara lain,” begitu dalih Sri Mulyani.
Produk kedua adalah minyak dan gas bumi, khususnya gas cair atau yang dikenal dengan istilah LNG ataupun LPG. Menurut Sri, komoditas itu sangat penting bagi Indonesia, karena Indonesia bukan negara produsen migas.
Produk ketiga yang impornya bakal lebih dioptimalkan adalah produk perusahaan penerbangan AS, Boeing. Namun, Sri tak menjelaskan secara detail produk Boeing apa saja yang bakal ditambah impornya.
Daftar barang impor yang serapannya bakal ditingkatkan di Indonesia ini pun telah dibawa pemerintah kepada pemerintah AS ketika negosiasi tarif resiprokal sepekan lalu.





