Indonesia menawarkan ‘obral’ konsensi kepada Amerika Serikat (AS), mulai dari peningkatan impor hingga kemudahan investasi dan bisnis. Semua itu dilakukan demi melunakkan Presiden Donald Trump, agar menurunkan tarif impor mereka untuk produk-produk asal Indonesia.
__________
Berbagai servis khusus yang ditawarkan untuk AS itu adalah:
- Meningkatkan pembelian energi dari Amerika Serikat, antara lain LPG, minyak mentah, dan gas;
- Membeli produk pangan, seperti gandum dan kedelai. Indonesia juga akan meningkatkan pembelian barang-barang modal dari Amerika;
- Memfasilitasi perusahaan AS yang selama ini beroperasi di Indonesia, antara lain terkait dengan perizinan dan insentif;
- Menawarkan kerja sama terkait dengan critical mineral;
- Mempermudah prosedur impor untuk produk-produk hortikultura dari AS;
- Indonesia mendorong agar investasi dilakukan secara business to business (B2B); dan
- Hapus TKDN untuk produk telekomunikasi dan elektronik. Format TKDN akan diubah menjadi insentif.
Tawaran yang semestinya sangat menarik bagi AS itu muncul setelah Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto, Wakil Menteri Keuangan Thomas Djiwandono, dan Wakil Ketua Dewan Ekonomi Nasional Mari Elka bertemu US Trade Representative (USTR) maupun US Secretary of Commerce Jamieson Greer, dengan tujuan menego tarif Trump.

Airlangga bilang jika pertemuan itu untuk mendiskusikan berbagai opsi terkait kerja sama bilateral dengan Indonesia. “Kita berharap bahwa situasi daripada perdagangan yang kita kembangkan bersifat adil dan imbang,” kata dia dalam konferensi pers daring yang digelar Jumat, 18 April 2025.
Sederet tawaran ‘menggiurkan’ dari Indonesia tersebut merupakan salah satu dari sekitar tujuh poin yang lahir dari pertemuan.
Namun demikian, tawaran itu belum disepakati. Kata Airlangga, itu semua baru merupakan kerangka acuan negosiasi. Airlangga mengeklaim jika kedua pihak optimistis bakal menemukan titik temu.
Secara umum, Airlangga menambahkan, AS minta agar perdagangannya dengan Indonesia bisa berimbang. Sebab, kata dia, saat ini neraca perdagangan Indonesia dengan AS rutin menghasilkan keuntungan bagi Indonesia, alias terjadi surplus perdagangan untuk Indonesia.
Dalam dua bulan pertama tahun ini, AS menyumbang surplus terbesar bagi Indonesia senilai USD3,14 miliar. Terutama dari komoditas mesin dan perlengkapan elektrik serta bagiannya (HS 85)—yang nilainya mencapai USD577 juta.
Selain itu, komoditas pakaian dan aksesorinya (rajutan/HS 61) juga memberikan surplus perdagangan senilai USD433,3 juta per akhir Februari 2025. Sedangkan alas kaki (HS 64) menyumbangkan surplus USD407,7 juta.
Menurut rencana, pemerintah bakal bertemu dengan US Secretary of The Treasury alias Menteri Keuangan AS terkait impor tersebut pada pekan ini.
Apa saja poin-poin hasil Pertemuan Indonesia dengan AS?
Berikut ini ringkasannya:





