Haji 2025 Bertepatan dengan Musim Panas, Kedokteran Haji Ingatkan Pentingnya Manasik Fisik, Bukan Hanya Teori dan Doa-Doa

Pelaksanaan Haji 1446 H/ 2025 M di Arab Saudi bertepatan dengan musim panas. Menurut prediksi, cuaca bisa menyentuh 41 derajat celcius. Ketua Umum Perhimpunan Kedokteran Haji Indonesia (Perdokhi), dr Syarief Hasan Lutfie (SHL) mewanti-wanti pentingnya persiapan fisik bagi jemaah haji Indonesia.

__________

Eks Direktur Utama Rumah Sakit (RS) Haji Jakarta ini mengingatkan jika ibadah haji bukan hanya soal spiritual, tapi juga ujian berat secara fisik.

“Jemaah reguler kita ini jumlahnya besar, lebih dari 221 ribu orang. Sisanya adalah jamaah haji khusus. Mereka harus sadar bahwa haji adalah ibadah yang sangat berat fisiknya. Trigger-nya justru saat tiba di Arab Saudi, karena kondisi lingkungan yang sangat berbeda,” kata Syarief, dalam acara Workshop Tenaga Dokter Haji Khusus yang digelar Perdokhi di Jakarta, Sabtu, 19 April 2025.

Bacaan Lainnya

Syarief mengingatkan, faktor lingkungan, seperti cuaca panas, perbedaan budaya dan bahasa, hingga aktivitas fisik tinggi selama ibadah, bisa menjadi pemicu munculnya masalah kesehatan. Terutama bagi jemaah dengan penyakit bawaan atau komorbid seperti hipertensi.

“Kalau di rumah hipertensinya terkontrol, bisa jadi di sana jadi tidak terkontrol. Kenapa? Karena capek, makan tidak teratur, tidur kurang, dan aktivitas berlebihan,” jelasnya.

Manasik Bukan Hanya Teori dan Doa-Doa, Tapi Juga Manasik Fisik

Menurut Syarief, banyak calon jemaah yang tidak terbiasa bergerak aktif dalam kesehariannya. Maka dari itu, dia menyarankan agar sejak jauh hari jemaah mulai melatih fisik, seperti dengan berjalan kaki rutin di lingkungan rumah atau masjid.

“Manasik itu bukan cuma doa-doa dan teori. Tapi juga harus ada manasik fisik. Jalan kaki bareng-bareng, pelan-pelan tapi konsisten, biar daya tahan tubuh terbentuk,” katanya.

Tak hanya itu, lanjut dia, edukasi kesehatan harus terus diperkuat di semua level, mulai dari puskesmas hingga pusat. Terutama bagi jemaah reguler, yang menurutnya masih kurang kesadaran dalam hal menjaga kesehatan.

“Kalau ONH Plus biasanya sudah paham, tinggal diingatkan. Tapi, yang reguler perlu dicontohkan langsung, karena kadang cuma dikasih tahu, ya enggak jalan juga,” nasihat dia.

Syarief juga mengingatkan kepada jemaah akan pentingnya memperhatikan perlengkapan pribadi, seperti alas kaki, tas, hingga pakaian. Menurutnya, banyak kasus kaki lecet hingga cedera parah karena jemaah langsung tawaf tanpa alas kaki, atau membawa beban berlebihan.

“Lansia bawa tas berat, padahal sudah osteoporosis, bisa langsung cedera. Jangan sampai itu terjadi,” ujar Syarief.

Monitor Kesehatah Jemaah dengab Cincin Pintar ‘Afiat Smart Ring’

Sebagai bagian dari upaya memonitor kesehatan jemaah, Syarief memperkenalkan inovasi terbaru yang dilakukannya, yaitu “Afiat Smart Ring”. Perangkat digital berbentuk cincin ini bisa terhubung ke ponsel pintar.

Cincin pintar dikembangkan secara khusus oleh dr Syarief berdasarkan hasil riset terkait kesehatan jemaah. Dia bekerjasama dengan Pendiri Masjid Sejuta Pemuda, Anggy F. Sulaiman.

“Fitur ini bisa mendeteksi tanda-tanda kelelahan, bahkan sebelum jemaah benar-benar drop. Kalau ada potensi lelah, alat akan kasih peringatan atau getar di ponsel,” jelas Syarief.

Dengan teknologi ini, dia berharap kesehatan jemaah bisa lebih terpantau dan terhindar dari kejadian gawat darurat ketika melaksanakan ibadah haji.

“Goal-nya, ketika tiba waktu keberangkatan, jemaah sudah siap secara mental dan fisik. Dan tentu, bisa menunaikan ibadah dengan selamat dan mabrur,” katanya.

Anggy menjelaskan, berbicara terkait kesehatan dan ibadah haji merupakan sebuah kewajiban.

“Dan kami, selaku penyedia fasilitas teknologi, tentunya ingin berkontribusi dalam mewujudkan ketenangan  paripurna dalam beribadah,” ucapnya.***

Pos terkait