Menyelami Ancaman Deepfake: Pelecehan Seksual Digital yang Menghancurkan Hidup Perempuan dan Anak

Teknologi deepfake adalah pisau bermata dua. Pada sisi negatif, teknologi ini menjadi ancaman bagi pelecehan perempuan di ruang digital. | socialmediasafety
Deepfake, teknologi digital yang dapat memanipulasi gambar dan video, telah menjadi ancaman serius bagi perempuan dan anak-anak. Dalam cerita tragis Ruma dan Kim, mereka menjadi korban pelecehan seksual digital yang mengubah hidup mereka selamanya. Bagaimana mereka berjuang melawan eksploitasi seksual digital ini?

__________

Pada siang musim panas tahun 2021, saat matahari menyengat dan kehidupan seharusnya berjalan santai, hidup Ruma berubah dalam sekejap. Ia tengah menikmati makan siangnya ketika ponselnya bergetar tanpa henti. Notifikasi bertubi-tubi masuk, menandai awal dari mimpi buruk yang tak pernah ia bayangkan.

Saat ia membuka pesan-pesan itu, dunianya runtuh. Wajahnya — yang sebelumnya ia bagikan di media sosial dengan polos — diedit secara keji ke tubuh-tubuh telanjang, disebarluaskan di ruang obrolan Telegram.

Bacaan Lainnya

Deepfake, sebuah teknologi berbasis kecerdasan buatan (AI) yang memungkinkan manipulasi gambar dan video dengan menyalin wajah seseorang ke dalam situasi yang tidak sesuai atau tidak nyata, digunakan untuk menciptakan kekejian ini. Komentar-komentar vulgar dan penuh hinaan menyertainya, mencabik-cabik martabat yang selama ini ia jaga.

“Apakah kamu menikmati video seksmu sendiri?” demikian salah satu pesan anonim yang menusuk hati Ruma. Ancaman pun berdatangan: gambar-gambar itu akan disebarkan lebih luas, dan polisi, katanya, tak akan bisa menyelamatkannya.

Teknologi telah lama menjadi pisau bermata dua. Namun kini, dengan kehadiran alat-alat deepfake berbasis AI, siapa pun — bahkan tanpa pernah mengirim foto intim — dapat menjadi korban pelecehan seksual digital.

Korea Selatan, negeri yang dikenal dengan kemajuan teknologinya, rupanya juga menyimpan luka dalam: dari kamera tersembunyi di toilet umum hingga ruang-ruang gelap di Telegram, tempat perempuan dan anak-anak diperas dan dipermalukan.

Bagi Ruma, serangan ini menghancurkan seluruh pandangan hidupnya.
“Itu menghancurkan seluruh sistem kepercayaan saya tentang dunia,” kata Ruma seperti dilansir CNN, Senin 28 April 2025 .

Saat ia melapor ke polisi, harapannya kembali dipatahkan. Telegram, kata petugas, terkenal enggan berbagi data pengguna. Penyelidikan serupa pun sering berakhir tanpa hasil. Ruma, yang dulunya mahasiswi aktif dan ceria, kini mendapati dirinya diliputi rasa takut dan tidak berdaya.

Namun Ruma memilih untuk melawan. Ia bergabung dengan sekelompok mahasiswa lain dan meminta bantuan seorang aktivis bernama Won Eun-ji — sosok yang pernah mengguncang Korea Selatan dengan membongkar jaringan eksploitasi seks digital terbesar negara itu.

Won menyamar di ruang obrolan Telegram. Hampir dua tahun berbaur, mengumpulkan informasi diam-diam, hingga akhirnya membantu polisi dalam operasi penangkapan. Pada Mei 2023 lalu, dua mahasiswa Universitas Nasional Seoul — institusi prestisius di negara itu — ditangkap. Salah satu pelaku dijatuhi hukuman sembilan tahun penjara.

Namun bagi Ruma, keadilan tidak serta-merta menghapus luka. “Saya senang… tapi saya belum merasa sepenuhnya lega,” katanya.

Di sudut Kota Seoul lainnya, kisah serupa menimpa Kim, seorang guru sekolah menengah. Ia pertama kali mengetahui dirinya menjadi sasaran ketika seorang siswa memperlihatkan tangkapan layar dari Twitter: foto-foto dirinya di kelas, dimanipulasi menjadi pornografi.

“Tangan saya gemetar,” kenangnya. Dua hari kemudian, lebih banyak gambar bermunculan, dibuat lebih vulgar dan realistis. Seperti Ruma, Kim juga sadar betapa lemahnya sistem perlindungan di dunia maya. Ia dan rekannya pun melakukan penyelidikan sendiri, akhirnya menemukan bahwa pelakunya adalah seorang mahasiswa pendiam — orang yang, ironisnya, tampak tidak berbahaya.

Namun, sekalipun pelaku diadili, bagi Kim, dunia sudah berubah. “Kehidupan saya tidak akan pernah sama,” katanya lirih. Lebih memilukan lagi, Kim menyaksikan bagaimana sebagian masyarakat meremehkan penderitaan korban.

“Kenapa menganggap ini kejahatan serius? Itu bukan tubuhmu yang sebenarnya,” begitu komentar-komentar yang ia baca di internet.

Teknologi deepfake telah menciptakan bentuk baru dari teror. Teknologi yang dulu menjanjikan kemudahan dan kedekatan, kini menjadi arena berbahaya — terutama bagi perempuan. Di tengah gempuran teknologi itu, aktivis seperti Won terus berjuang. Ia menyaksikan bagaimana kejahatan seks digital berkembang pesat, menyesuaikan diri setiap kali tekanan dari pihak berwenang mereda.

Dan para korban, seperti Ruma dan Kim, terus berusaha menyembuhkan luka kasatmata. Mereka adalah wajah-wajah yang menolak dilupakan, mengingatkan dunia bahwa di balik setiap gambar yang diedit, ada hidup yang terluka. Ada harga kemanusiaan yang tak bisa dikembalikan.

Ruma kini melangkah perlahan, mencoba menyusun kembali kepercayaan dirinya pada dunia. Tapi ia tahu, bekas luka dari dunia digital akan selalu ada — mengingatkannya akan malam-malam ketika dunia maya, tanpa ampun, menghapus batas antara kenyataan dan mimpi buruk.***

Pos terkait