Satu spesies cecak yang ditemukan di sekitaran perbatasan Madiun-Magetan, Jawa Timur, baru saja mendapatkan nama. Dinamai ‘cecak pecel Madiun’. Sebuah penghormatan kecil bagi seekor cecak yang menyelinap dalam gelap, dan sepincuk pecel Madiun yang namanya kini abadi dalam sejarah zoologi.
Suatu malam di Maospati, Magetan–wilayah yang berdempetan dengan Kabupaten Madiun–seekor cecak jarilengkung merayap perlahan di sela-sela tumpukan genteng di sebuah rumah desa. Tubuhnya berwarna cokelat kehitaman, bergerak lincah di antara celah sempit, seolah sedang mengawasi dunia di sekelilingnya.
Spesies ini baru saja mendapat nama: Cyrtodactylus pecelmadiun—diambil dari hidangan khas Jawa Timur, pecel Madiun.
Nama yang unik ini bukan sekadar pilihan asal-asalan. Para peneliti dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) ingin menggabungkan sains dan budaya dalam satu bingkai.
“Kami ingin mengenalkan ragam kuliner Nusantara melalui dunia sains, sebagaimana yang telah kami lakukan sebelumnya pada Cyrtodactylus papeda dari Pulau Obi dan Cyrtodactylus tehetehe dari Kepulauan Derawan,” kata Awal Riyanto, Peneliti Ahli Madya Pusat Riset Biosistematika dan Evolusi BRIN dilansir dari laman BRIN, Selasa, 25 Maret 2025.
Penemuan cecak ini menjadi istimewa karena spesies baru ini bukan ditemukan di hutan lebat atau pegunungan terpencil, melainkan di lingkungan urban: tanggul jembatan, tumpukan genteng, dan kebun di permukiman desa. “Ini spesies yang beradaptasi dengan baik di sekitar manusia, lebih sering terlihat tidak lebih dari 40 cm di atas permukaan tanah,” ujar Awal.
Secara fisik, C. pecelmadiun memiliki tubuh ramping dengan panjang mencapai 67,2 mm untuk jantan dewasa dan 59,0 mm untuk betina. Sisiknya tersusun dalam 18–20 baris tuberkular dorsal yang tidak beraturan di bagian tengah tubuh. Pada individu jantan, terdapat 32–37 pori precloacofemoral, menambah keunikan morfologi spesies ini.
Penemuan C. pecelmadiun juga menambah daftar panjang spesies Cyrtodactylus yang ditemukan di Jawa. Sejak deskripsi pertama Cyrtodactylus marmoratus oleh Gray pada 1831, sejumlah spesies baru terus bermunculan, termasuk C. semiadii (2014), C. petani (2015), C. klakahensis (2016), dan yang terbaru, C. belanegara (2024).




