Namun, taksonomi cecak jarilengkung ini bukan tanpa polemik. Beberapa studi mengungkap bahwa sebagian spesies yang sebelumnya dianggap berbeda sebenarnya merupakan variasi dari spesies yang sudah ada. Contohnya, C. fumosus yang dideskripsi Müller (1895) akhirnya dikonfirmasi sebagai bagian dari C. marmoratus, sementara C. klakahensis kemudian disinonimkan dengan C. petani berdasarkan penelitian taksonomi integratif.
Dalam studi filogenetik, C. pecelmadiun menunjukkan kekerabatan erat dengan C. petani, dengan jarak genetik 0,1–1,6%. Spesies ini menjadi bukti kedua keberadaan grup darmandvillei di Jawa setelah C. petani.
Kelompok ini diketahui melimpah di kawasan Sunda Kecil dan menjadi bagian dari kompleks spesies yang masih menyimpan banyak misteri.
Penelitian ini telah dipublikasikan dalam jurnal Zootaxa pada 16 Januari 2025. Lebih dari sekadar menambah daftar spesies, penemuan ini membuka jalan bagi eksplorasi lebih lanjut terhadap keanekaragaman hayati di Indonesia.
“Kami yakin masih banyak spesies yang belum teridentifikasi secara menyeluruh. Penemuan ini hanya awal dari perjalanan panjang mengungkap keragaman tersembunyi (hidden diversity) dari Cyrtodactylus di Jawa,” pungkas Awal.
Di antara genteng rumah, tanggul jembatan, dan kebun desa, siapa sangka ada spesies baru yang mengintai? Barangkali, cecak kecil ini sudah lama hadir di sekitar kita, hanya saja baru sekarang ia mendapat nama dan tempat di dunia sains.
Sebuah penghormatan kecil bagi seekor cecak yang menyelinap dalam gelap—dan bagi sepiring pecel Madiun yang namanya kini abadi dalam sejarah zoologi.***




