Dua dari tujuh tersangka kasus dugaan korupsi tata kelola minyak mentah dan produk kilang di PT Pertamina (Persero) periode 2018-2023–yang rugikan negara Rp193,7 triliun—adalah anak pengusaha minyak Mohammad Riza Chalid.
Keduanya adalah Muhammad Kerry Adrianto Riza (MKAR), Beneficial Owner PT Navigator Khatulistiwa; dan Gading Ramadhan Joedo (GRJ), Komisaris PT Jenggala Maritim dan Direktur Utama PT Orbit Terminal Merak.
Peran Muhammad Kerry Adrianto Riza
Dalam kasus ini, Kerry berperan sebagai broker yang bekerja sama dengan Subholding PT Pertamina.
Dia mendapat keuntungan dari mark-up kontrak pengiriman (shipping) yang dilakukan oleh Direktur PT Pertamina International Shipping, Yoki Firnandi.
Modus yang dijalankan melibatkan pengadaan impor dengan harga yang sudah di-mark-up, menyebabkan negara harus mengeluarkan pembayaran lebih besar, berkisar 13-15 persen di atas harga asli.
Peran Gading Ramadhan Joedo
Gading diduga berperan memuluskan kontrak harga tinggi dengan berkomunikasi secara intens dengan Agus Purwono, Vice President Feedstock Management PT Kilang Pertamina Internasional.
Gading juga disebut-sebut mendapat persetujuan dari Direktur Fit Stock and Product Optimization PT Kilang Pertamina Internasional Sani Dinar Saifuddin dan Direktur Utama Pertamina Patra Niaga Riva Siahaan dalam proses impor minyak mentah dan produk kilang.
PT Orbit Terminal Merak pernah menjadi sorotan pada tahun 2015 terkait surat dari Setya Novanto kepada Direktur Utama Pertamina, yang meminta agar Pertamina membayar biaya penyimpanan BBM kepada PT Orbit Terminal Merak.
Pertamina menolak permintaan tersebut karena masih dalam proses renegosiasi harga, yang kemudian surat tersebut dinyatakan palsu.
Puncaknya kala itu adalah terungkapnya koloborasi antara Reza Chalid dengan Setya Novanto dalam perpanjangan kontrak Freeport Indonesia, atau lebih dikenal kasus ”papa minta saham”.
Pada 16 November 2015, Menteri ESDM saat itu, Sudirman Said, melaporkan skandal itu secara tertulis kepada Makamah Kehormatan Dewan (MKD) DPRRI.
Gading bukanlah anak kandung Riza Chalid, melainkan anak angkat keduanya. Meski demikian, ia tetap mendapatkan pengaruh besar dalam dunia bisnis minyak Indonesia, mengikuti jejak sang ayah angkat yang dikenal mendominasi impor minyak melalui Petral dan dijuluki sebagai “penguasa abadi bisnis minyak” di Tanah Air. ***





