Banyak Oknum Polisi Berulah Gara-gara Pimpinan Lalai, Pengamat: Polri Perlu Pemurnian

Ilustrasi. (SF)
Belakangan ini banyak terungkap ulah oknum polisi yang mencemarkan nama baik institusi. Pengamat kepolisian Islah Bahrawi menilai sudah saatnya Polri melakukan purifikasi atau pemurnian.

Dalam kasus pemerasan penonton acara Djakarta Warehouse Project (DWP), mantan Dirresnarkoba Polda Metro Jaya Kombes Donald Parlaungan Simanjuntak dijatuhi sanksi pemberhentian dengan tidak hormat (PTDH) alias dipecat karena dinilai telah membiarkan anak buahnya melakukan tindakan pemerasan. Artinya, ada fungsi kepemimpinan yang tidak berjalan dengan baik.

Terkait kelalaian pemimpin seperti itu,  Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo pernah menginstruksikan agar seluruh anggota Polri berani mengoreksi pimpinan jika memang melanggar aturan atau melakukan kesalahan.

Sigit mengatakannya saat memberi instruksi kepada seluruh jajarannya pada Senin, 12 September 2022. “Ikan busuk tentunya mulai dari kepala. Mari kita saling mengingatkan,” kata Sigit, sebagaimana dilihat dari tayangan video Divisi Humas Polri pada Senin, 12 September 2022.

Bacaan Lainnya

“Atasan mengingatkan anak buah, anak buah juga sama, menyampaikan, komandan sepertinya ini salah, dan itu sah saja,” tuturnya.

“Jangan biasakan, bila menerima sesuatu yang tidak pas, terus rekan-rekan tidak berani menyampaikan pendapat rekan-rekan,” imbuhnya.

Perlu Purifikasi

Terkait banyaknya kelalaian yang melibatkan oknum anggota kepolisian belakangan ini, pengamat kepolisian Islah Bahrawi menilai Polri melakukan ‘purifikasi’ atau pemurnian institusi.

“Berbagai kelalaian anggota POLRI hari ini merupakan puncak gunung es dari kesalahan pondasi yang terbangun selama bertahun-tahun. Sudah saatnya POLRI melakukan purifikasi — ‘remaking of nobile officium’ — pemuliaan profesi secara menyeluruh,” ujar Islah, dikutip dari akun X pribadinya,  @islah_bahrawi, Jumat, 3 Januari 2025.

Purifikasi di tubuh Polri, lanjut Islah, tidak bisa hanya dilakukan melalui pengawasan yang kemudian berbuntut sanksi-sanksi. Tetapi juga perlu perbaikan sistem, mulai dari rekrutmen, capacity building, metode kerja, hingga promosi jabatan berbasis merit system, bukan spoil system.

Islah menyatakan yakin Polri masih bisa membenahi diri, sepanjang dilakukan dengan niat luhur, dari hulu hingga ke hilir. Jika tidak, kata dia, Polri akan seterusnya melahirkan aksi subordinasi, kelalaian (omission) dan pembangkangan (disobedience) dari para anggotanya.***

Pos terkait