JOMBANG—Peristiwa meletusnya Gunung Kelud, yang disebut Sukarno sebagai penanda kelahirannya, rupanya terbukti secara ilmiah terjadi pada tahun 1902. Namun, sebagian besar sejarawan kadung meyakini letusan tersebut terjadi pada tahun 1901—sehingga menyimpulkan Sukarno lahir tahun tersebut.
“Masih ada pertanda lain ketika aku dilahirkan. Gunung Kelud, yang tidak jauh letaknya dari tempat kami, meletus,” demikian Bung Karno berkisah kepada Cindy Adams, yang kemudian diabadikan oleh Adams dalam Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat Indonesia (1966).
“Orang yang percaya kepada tahayul meramalkan, ini adalah penyambutan terhadap bayi Soekarno,” lanjut Bung Karno.
Sukarno juga mengisahkan bahwa kondisi lingkungan di sekitar gunung begitu gelap. Langit terlihat hitam, bahkan hingga jarak yang jauh dari Gunung Kelud.
“Raksasa Gunung Kelud, gunung berapi di Blitar, mencari saat itu untuk menunjukkan kemurkaan Dewa-dewa. Langit menjadi hitam oleh arang dan abu bermil-mil jauhnya.” ujarnya.
“Di mana-mana ledakan lahar. Daerah itu diselubungi oleh asap, api, dan racun. Dengan kekuatan yang hebat lahar yang mendidih-didih mencurah menuruni lereng gunung ke tempat yang lebih rendah dan menggenang di sana, antara Blitar dan Wlingi,” kenang Bung Karno.
Pernyataan Sukarno mengenai letusan Gunung Kelud ‘menyambut’ kelahirannya inilah yang memunculkan keyakinan dari sebagian sejarawan bahwa dia lahir di Blitar, Jawa Timur, pada 6 Juni 1901. Sementara sebagian lainnya yakin dia lahir di Surabaya, di tahun dan tanggal yang sama.
Barangkali keyakinan Kelud meletus pada tahun 1901 tersebut berdasarkan data dalam buku Data Dasar Gunung Api Indonesia, yang diterbitkan oleh Pusat Penelitian dan Pengembangan (Puslitbang) Geologi Kementerian Energi, Sumber Daya Alam, dan Mineral (ESDM), tahun 2011.
Buku tersebut mencatat jika Gunung Kelud mengalami erupsi selama sekitar dua jam pada tengah malam, 22 – 23 Mei 1901. Letusan dilaporkan terus meningkat pada pukul 03.00 dinihari.
Bunyi letusan dilaporkan terdengar sampai Pekalongan, Jawa Tengah. Dampak letusan itu sampai hingga Surabaya—tempat di mana Soekeni, ayah Sukarno, dan keluarganya tinggal pada pertengahan tahun 1901 itu.
Sementara itu, Kompas, dalam edisi 5 Oktober 1970, melaporkan bahwa mereka mendapatkan keterangan seseorang bernama Soemodihardjo, yang disebut sebagai paman Sukarno. Kompas menyebutnya sebagai adik ayah Sukarno, Soekeni Sosrodihardjo.
Kompas melaporkan bahwa Soemodihardjo menerangkan jika kemungkinan Sukarno lahir beberapa hari sebelum Gunung Kelud meletus pada 23 Mei 1901—sebagaimana data yang diakui oleh Kementerian ESDM.
Sebagaimana ditulis Kompas, pada sekitar Mei 1901, Soemodihardjo sedang bersekolah di kweekschool—setingkat sekolah dasar—Probolinggo ketika Kelud meletus. Akibat letusan itu, sebagaimana ditulis Kompas, dia diperbolehkan pulang ke Surabaya.
“Ternyata di rumah itu (yang menurut Kompas di Surabaya) ipar saya, Idayu, yang berasal dari Bali, baru melahirkan seorang anak laki-laki. Waktu tiba di rumah kakak saya itu, bayinya berusia 5 atau 6 hari,” demikian kata Soemodihardjo versi Kompas.
Sekitar dua pekan pasca-letusan Gunung Kelud, tepatnya pada 6 Juni 1901, Soemodihardjo versi Kompas melanjutkan, lahirlah seorang bayi laki-laki mungil bernama Koesno.
Data-data inilah yang membuat sejarawan yakin bahwa Sukarno lahir di Surabaya atau Blitar, pada 6 Juni 1901.
Benarkah Gunung Kelud Erupsi Dahsyat pada Tahun 1901?
Sementara itu, menurut penelusuran Samudra Fakta, ada data yang ‘agak lain’ terkait tahun letusan Kelud di awal abad ke-20 ini. Data tersebut tersaji dalam buku berjudul The Geology of Indonesia, Volume 1, Part 1, Edisi 2, karya seorang ahli geologi Belanda bernama Reinout Willem van Bemmelen.





