
Buku ini diterbitkan ulang oleh Penerbit Martinus Nijhoff di tahun 1970. Pada halaman 10 buku tersebut tertulis bahwa Gunung Kelud pernah meletus pada 1902.
Sebagai informasi, Van Bemmelen adalah ahli geologi Belanda yang banyak melakukan survei awal terhadap vulkanisme dan tektonisme di Indonesia. Karyanya banyak menjadi acuan para ahli geologi setelahnya, termasuk ahli-ahli geologi Indonesia saat ini.

Perihal Gunung Kelud meletus tahun 1902 juga dicatat oleh dua ilmuwan bernama David Eliot Brody—seorang pengacara ahli dalam bidang hukum sumber daya alam dan lingkungan dari Denver,Colorado, Amerika Serikat (AS)—dan Arnold R. Brody P.hD, pakar ilmu patologi, biologi sel, dan kesehatan lingkungan dari Tulane University School of Medicine, News Orlean, Los Angeles, AS.
Keduanya mencatat bahwa Gunung Kelud meletus pada tahun 1902 pada halaman 247 buku mereka yang berjudul The Science Class You Wish You Had (Revised Edition): The Seven Greatest Scientific Discoveries in History and the People Who Made Them, terbitan 6 Agustus 2013.


Buku ini merupakan edisi revisi. Sebelumnya pernah diterbitkan oleh Penerbit Perigee Trade, pada Agustus 1997.
Ketika gunung berapi itu meletus, sebagaimana catatan Brody dan Brody dalam buku tersebut, muncul aliran meterial lumpur dan banjir lahar dari danau kawah, yang menyebabkan 51.000 orang tewas.
Kesimpulan Van Bemmelen dan dua Brody tentang letusan Kelud pada 1902 tersebut mengacu pada buku Die Erdbeben des Indischen Archipels bis zum Jahre 1857 yang terbit tahun 1918. Buku tersebut memaparkan bahwa pemerintah Belanda membangun sistem terowongan untuk mengurangi jumlah air di kawah pada tahun 1902.
Air kawah muncul setelah Gunung Kelud meletus. Belanda khawatir bakal timbul banyak korban saat Gunung Kelud meletus lagi, akibat banyaknya air yang berada dalam kawah.
Data ini sesuai dengan pernyataan Bung Karno dalam buku Penyambung Lidah Rakyat Indonesia, di mana dia menyebut, “Dengan kekuatan yang hebat lahar yang mendidih-didih mencurah menuruni lereng gunung ke tempat yang lebih rendah dan menggenang di sana.”
Terowongan yang dibangun pun berhasil mengurangi air dari dalam kawah, namun kemudian jebol. Pada tahun 1923, Pemerintah Belanda membuat tujuh terowongan lagi untuk mengurangi jumlah air dalam kawah.
Jika mengacu pada data Van Bemmelen, serta data Brody dan Brody yang mengacu pada buku Die Erdbeben des Indischen Archipels bis zum Jahre 1857, maka bisa jadi Gunung Kelud mengalami erupsi dahsyat pada tahun 1902—bukan 1901 sebagaimana disebut Kementerian ESDM dan diyakini oleh banyak sejarawan serta geolog.
Data Die Erdbeben des Indischen Archipels bis zum Jahre 1857 dan buku The Geology of Indonesia karya Reinout Willem van Bemmelen semestinya lebih valid secara akademik, karena waktu penyusunannya lebih dekat dengan peristiwa, dibanding buku Data Dasar Gunung Api Indonesia yang diterbitkan Kementerian ESDM pada tahun 2011.
Dengan demikian, data geolog Belanda tersebut mengonfirmasi jika Sukarno lahir pada tahun 1902. Sebab, sebagaimana pengakuan Sukarno sendiri, dia lahir hampir bersamaan dengan meletusnya Gunung Kelud. Sementara pada tahun tersebut, Soekeni, ayah Sukarno, sedang bertugas mengajar di di Desa Ngelo—sekarang bernama Desa Rejoagung—Kecamatan Ploso, Jombang.
Perihal Soekeni tinggal di Ploso pada tahun tersebut terkonfirmasi oleh banyak saksi dan dokumen surat penugasannya dari Pemerintah Kolonial Belanda.
Jombang tentunya juga terdampak letusan Kelud pada tahun 1902 tersebut. Pasalnya, secara geografis, jaraknya lebih dekat dari Kelud daripada Surabaya. Sementara berbagai laporan ilmiah sepakat jika dampak letusan kali itu sangat kuat dan luas, hingga ke Surabaya di timur dan Pekalongan, Jawa Tengah, di bagian barat.
Jika Surabaya dan Pekalongan saja kena dampak, apalagi Jombang? Barangkali karena itulah Sukarno bercerita, “Gunung Kelud, yang tidak jauh letaknya dari tempat kami, meletus,” kepada Cindy Adams.
Kelud tidak jauh dari Ploso, Jombang.





