Gaza Makin Merana: Krisis Bahan Bakar Membuat Layanan Dasar Makin Terhambat 

Penduduk Gaza kian merana. Selain digempur habis-habisan oleh Israel, wilayah ini juga mengalami krisis bahan bakar, yang menyebabkan terhambatnya layanan dasar untuk masyarakat. (Al Jazeera)
GAZA—Israel tetap tidak mengizinkan pasokan bahan bakar bagi bantuan kemanusiaan di Gaza. Akibatnya, wilayah yang hancur karena serbuan tentara Zionis tersebut makin krisis bahan bakar. Layanan dasar bagi masyarakat Gaza makin terhambat.

Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pun menyatakan keprihatinannya perihal kurangya bahan bakar di Gaza. “Kurangnya listrik dan bahan bakar terus berdampak pada penyedia layanan dasar, termasuk rumah sakit, ambulans, toko roti, dan truk bantuan,” kata juru bicara PBB Stephane Dujarric, dikutip dari Anadolu, Rabu (17/7/2024).

Dujarric menyebutkan, dalam dua minggu terakhir PBB mengumpulkan rata-rata 80.000 liter bahan bakar per hari. Volume ini naik dari sebelumnya hanya sekitar 45.000 liter setiap hari dalam dua minggu terakhir bulan Juni.

Kendati pasokan menunjukkan kemajuan, kata Dujarric, kebutuhan bahan bakar untuk operasi kemanusiaan yang paling mendasar di Gaza masih belum mencukupi. Sebab, menurut dia, yang dibutuhkan adalah 400.000 liter per hari.

Bacaan Lainnya

“… dan pihak berwenang Israel masih tidak mengizinkan alokasi bahan bakar untuk para pekerja kemanusiaan lokal, sehingga mencegah mereka mentransfer pasokan di Gaza,” ujarnya.

PBB juga melaporkan telah terjadi serangan udara di Gaza yang menewaskan dan melukai puluhan korban. “Salah satu serangan terjadi hanya beberapa ratus meter dari Pusat Operasi Kemanusiaan Gabungan di Deir al Balah yang digunakan oleh PBB dan mitra LSM kami,” terang Dujarric.

Terkait pengungsian, Dujarric mengatakan, Kantor PBB untuk Koordinasi Urusan Kemanusiaan (OCHA) melaporkan bahwa aliran keluarga yang mengungsi dari Kota Gaza ke Deir al Balah terus terjadi. Sedikitnya ada 1.000 orang yang  menyeberang dalam sepekan terakhir.

Israel sendiri, yang mengabaikan resolusi Dewan Keamanan PBB soal pelaksanaan gencatan senjata, telah menghadapi kecaman internasional di tengah serangan brutal yang terus mereka lancarkan di Gaza sejak serangan Hamas pada 7 Oktober 2023.

Sejak  invasi tersebut, sebagaimana keterangan otoritas kesehatan setempat, lebih dari 38.700 warga Palestina terbunuh—di mana sebagian besar perempuan dan anak-anak—dan lebih dari 89.000 orang terluka.

Sembilan bulan setelah serangan Israel, sebagian besar wilayah Gaza menjadi reruntuhan yang melumpuhkan akses makanan, air bersih, dan obat-obatan. Juga bahan bakar. | Antara, Anadolu

Pos terkait