Daniel juga mempertanyakan bagaimana target zero net sink Indonesia pada 2030 bisa tercapai jika 20 juta hektare hutan dibuka. “Banjir dan banjir bandang yang semakin sering terjadi adalah bukti nyata dampak dari pengurangan hutan,” tegasnya.
Daniel menambahkan, konversi hutan menjadi area pertanian berisiko merusak ekosistem, mengurangi keanekaragaman hayati, dan mempercepat perubahan iklim. Ia mendukung program swasembada pangan Presiden Prabowo, tetapi menegaskan bahwa langkah tersebut harus dilakukan dengan cermat.
Sebagai alternatif, Daniel mengusulkan pemanfaatan 11,77 juta hektare lahan pertanian yang saat ini tidak diusahakan (data BPS 2019). “Lahan ini bisa menjadi solusi tanpa perlu membuka hutan,” jelasnya.
Ia juga menyoroti pentingnya perlindungan lahan pertanian dari alih fungsi yang tidak terkendali. Menurutnya, UU Perlindungan Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan dan UU Sistem Budi Daya Pertanian Berkelanjutan harus diimplementasikan secara efektif.
“Pemerintah daerah juga harus serius menangani alih fungsi lahan agar kebijakan pusat dan daerah sejalan,” tutupnya.***





