Kalkulasi risikonya sederhana namun mengerikan: dalam satu ruangan, hampir seluruh elite politik dan militer Iran akan berkumpul. Serangan susulan—baik dari AS, Israel, atau musuh internal—bisa melumpuhkan negara dalam satu pukulan.
Namun ada faktor lain yang lebih personal. Putra Khamenei sekaligus penerusnya, Mojtaba Khamenei, dilaporkan terluka parah dalam serangan yang sama. Ia diangkat sebagai pemimpin tertinggi baru seminggu setelah kematian ayahnya, namun sejak itu tidak pernah muncul di publik. Spekulasi tentang kesehatannya dan keberadaannya terus bergulir. Sekretaris panitia pemakaman, Ali-Akbar Pourjamshidian, bahkan mengakui: “Masalah kehadiran Pemimpin Tertinggi bukanlah wewenang atau pengetahuan saya.”
Ketidakpastian tentang pemimpin baru—apakah ia akan hadir dalam pemakaman ayahnya sendiri—menjadi simbol dari ketidakpastian yang lebih besar: dapatkah Republik Islam bertahan tanpa Khamenei?
700 Tenaga Medis dan 4 Rumah Sakit Lapangan
Dengan 20 juta orang diprediksi memadati jalanan, persiapan logistiknya luar biasa. IRGC mengerahkan empat rumah sakit lapangan dengan kapasitas 60 tempat tidur masing-masing, 30 ambulans, dan 25 pusat pertolongan pertama. Lebih dari 700 tenaga medis—dokter, perawat, paramedis—akan disiagakan 24 jam. Layanan ambulans udara juga disiapkan.
Lima hari libur nasional telah diumumkan di Teheran, Qom, dan Mashhad. Kantor publik dan swasta di ibu kota akan tutup dari Sabtu hingga Senin. Pembatasan lalu lintas akan mempengaruhi sebagian besar pusat kota.
Di seluruh Teheran, spanduk-spanduk bergambar Khamenei dan slogan resmi pemakaman—“Kita Harus Bangkit”—telah dipasang. Ini bukan sekadar dekorasi. Ini adalah pernyataan politik: rezim ini masih hidup, masih kuat, masih mampu menggerakkan massa.
30 Negara dan Simbol Perlawanan
Pemakaman ini juga menjadi panggung diplomatik. Perwakilan dari lebih dari 90 negara dan pejabat dari 30 negara telah menyatakan kesediaan mereka untuk hadir. Iraq bahkan membentuk markas nasional tingkat tinggi di bawah pengawasan Perdana Menteri Irak untuk mengoordinasikan prosesi di Najaf dan Karbala.
“Salah satu tujuan upacara ini adalah untuk memperkuat kohesi nasional dan persatuan di antara kelompok politik, sosial, dan agama di Iran,” kata Pourjamshidian. Tujuan lainnya: “Memperkuat solidaritas di seluruh umat Islam dan menyatakan kesetiaan baru kepada Pemimpin Tertinggi yang baru.”
Di balik ritual berkabung, ada agenda politik yang jelas: melegitimasi kepemimpinan Mojtaba Khamenei di mata dunia dan di mata rakyatnya sendiri.
Gema dari Dalam dan Luar
Namun tidak semua suara sejalan dengan narasi resmi. Beberapa warga Iran mengkritik rencana pemakaman yang sangat tertunda ini. Yang lain—meski jumlahnya tidak jelas—justru merayakan kematian Khamenei. Reza Pahlavi, putra shah terakhir Iran, bahkan menulis di X: “Dengan kematiannya, Republik Islam secara efektif telah berakhir dan akan segera dikonsignasikan ke tong sampah sejarah.”
Pernyataan itu mungkin terlalu optimis. Tapi pertanyaannya tetap menggantung: dapatkah seorang pemimpin yang tidak pernah muncul di publik, yang kesehatannya dipertanyakan, yang legitimasinya diwariskan bukan dipilih—dapatkah ia mengendalikan negara yang sedang berduka sekaligus berperang?
Senja di Mashhad
Pada 9 Juli 2026, ketika jenazah Ayatollah Ali Khamenei akhirnya diturunkan ke tanah di sisi Makam Imam Reza, lebih dari sekadar seorang pemimpin akan dikubur.
Yang dikubur adalah era kepemimpinan karismatik yang telah mendefinisikan Iran selama hampir empat dekade. Yang dikubur adalah simbol perlawanan terhadap Barat yang telah menjadi identitas nasional. Dan yang dikubur—atau mungkin justru dilahirkan kembali—adalah masa depan Republik Islam itu sendiri.***





