Tahun 2008: Kerja Sama Medis
Indonesia menandatangani perjanjian kerja sama medis dengan layanan medis darurat nasional Israel senilai USD200.000.
Tahun 2012: Hubungan Informal
Indonesia pernah setuju untuk meningkatkan hubungan informal dengan Israel dan membuka konsulat di Ramallah. Konsulat dipimpin seorang diplomat berpangkat duta besar—yang juga ‘secara tidak resmi’ akan menjabat sebagai duta besar negaranya untuk kontak dengan Israel.
Langkah tersebut disepakati setelah melalui pertimbangan sensitif selama lima tahun, di mana kontak informal itu disebut mewakili peningkatan hubungan antara kedua negara secara de facto.
Indonesia secara resmi menyatakan bahwa langkah membuka konsulat di Tepi Barat merupakan wujud dukungan negara ini terhadap kemerdekaan Palestina. Salah satu pekerjaan diplomat di konsulat adalah berurusan dengan Israel dan memenuhi tugas-tugas diplomatik yang dianggap penting, juga tanggung jawab konsuler.
Namun, konsulat ini tidak berumur panjang. Setelah Israel menolak Menteri Luar Negeri Indonesia masuk ke Ramallah pada tahun 2012. Indonesia menarik diri dari perjanjian tersebut dan konsulat di Ramallah tidak lagi dibuka.
Tahun 2014: Kerja Sama Pendidikan
International University of Papua (IUP) di Jayapura diketahui menjalin kerja sama dengan Universitas Ariel, yang berlokasi di Tepi Barat, milik pemerintah Israel. Banyak juga mahasiswa Indonesia yang menempuh pendidikan di Israel.
Sementara itu, Institut Teknologi Del di Deli Serdang, Sumatera Utara, dalam situs resminya menyebutkan adanya kunjungan ke Israel tahun 2014.





