“Kita tidak bisa melihat kurangnya protes masyarakat dalam jumlah besar terhadap perang dan reaksi diam-diam di jalan-jalan Mesir, jika dipisahkan dari konteks yang lebih luas, yaitu tindakan keras terhadap segala bentuk protes dan pertemuan publik,” kata Hossam Bahgat, Kepala Inisiatif Mesir untuk Hak Pribadi, dikutip dari Reuters, Sabtu (4/5/2024).
Sementara di Lebanon, mahasiswa yang menggelar protes di kampus Beirut menolak untuk diwawancarai Reuters. Pasalnya, mereka takut akan dampak dari otoritas universitas.
Sejarah yang cukup kompleks antara Lebanondan Palestina juga menjadi salah satu penyebab kenapa protes terhadap serangan Israel tidak ramai di negara ini. Pasalnya, di Lebanon, sebagian orang malah menyalahkan Palestina sebagai pemicu perang saudara di negara tersebut pada tahun 1975-1990.
Di sisi lain, sebagian pihak di Lebanon khawatir jika dukungan terang-terangan mereka terhadap Palestina bakal dibajak oleh Hizbullah yang didukung Iran—yang telah terlibat baku tembak dengan Israel sejak awal konflik Gaza.
“Dunia Arab tidak bereaksi seperti Columbia atau Brown (universitas AS) karena mereka tidak mempunyai kemewahan untuk melakukannya,” kata Makram Rabah, profesor sejarah di American University of Beirut, dikutip dari Reuters.
Selain itu, imbuhnya, apa yang ingin dicapai oleh opini publik, yang sebagian besar sudah mendukung perjuangan Palestina, dinilai tidak jelas. “Dinamika kekuasaan dan cara Anda mengubah persepsi publik berbeda di dunia Arab dibandingkan di AS,” katanya.
Namun, apapun alasan sepinya protes masyarakat Arab, sebagian masyarakat di Gaza telah membandingkan antara protes di AS dan reaksi masyarakat di negara-negara Arab lainnya.
“Saya meminta mahasiswa Arab untuk melakukan apa yang telah dilakukan Amerika. Mereka seharusnya berbuat lebih banyak untuk kita daripada Amerika,” kata seorang pengungsi Palestina, Suha Al Kafarna, sebagaimana dilansir Reuters, Jumat (3/4/2024).◼︎





