Israel sendiri telah melancarkan serangan militer mematikan di Jalur Gaza sejak serangan Hamas pada 7 Oktober 2023—yang menurut Tel Aviv menewaskan kurang dari 1.200 orang. Setidaknya lebih dari 30.000 warga Palestina telah terbunuh dan 70.457 lainnya terluka di tengah kehancuran massal dan kekurangan kebutuhan pokok.
Israel juga memberlakukan blokade yang melumpuhkan Jalur Gaza, yang menyebabkan penduduknya—khususnya penduduk Gaza utara—berada di ambang kelaparan. Serangan Israel telah menyebabkan 85 persen penduduk Gaza terpaksa mengungsi di tengah kekurangan makanan, air bersih, dan obat-obatan, sementara 60 peren infrastruktur di wilayah tersebut telah rusak atau hancur.
Israel juga telah dituduh melakukan genosida oleh Mahkamah Internasional (ICJ). Keputusan sementara pada bulan Januari 2024 memerintahkan Tel Aviv agar menghentikan tindakan genosida dan mengambil tindakan untuk menjamin bahwa bantuan kemanusiaan diberikan kepada warga sipil di Gaza. Namun, faktanya, Pemerintah Israel melanggar semua perintah ICJ.
Sementara itu, Juru bicara sayap militer bersenjata Jihad Islam Palestina Brigade Al-Quds, Abu Hamzah, menyampaikan pesan kepada Perdana Menteri Israel Benyamin Netanyahu bahwa masalah selanjutnya di Gaza ditentukan oleh perlawanan rakyat Palestina.
“Biarlah Ramadhan menjadi bulan yang penuh kengerian dan kegelisahan bagi pendudukan Israel,” kata dia, dikutip dari Palestinachronicle, Sabtu (2/3/2024) pekan lalu.
Pihaknya menyerukan agar hari pertama Ramadhan menjadi hari mobilisasi global di segala bidang.
“Serang pos pemeriksaan, hadapi musuh, dan tingkatkan serangan. Saya katakan kepada rakyat kami di Tepi Barat dan Al-Quds (Yerusalem), keluarlah, ringan atau berat, untuk menyerang musuh,” serunya.
Otoritas Pemerintah Palestina, melalui Menteri Luar Negeri Palestina, Riyad Al-Maliki, pada Sabtu (2/3/2024), berharap gencatan senjata dapat disepakati dalam perang Gaza pada saat Ramadhan.
Israel dan Hamas telah bernegosiasi melalui mediator mengenai kemungkinan gencatan senjata di Gaza, dengan tujuan menghentikan pertempuran tepat pada bulan Ramadhan—bulan puasa umat Islam—yang akan dimulai tahun ini pada 10 atau 11 Maret.
“Kami berharap bisa mencapai gencatan senjata sebelum Ramadhan. Kami berharap bisa mencapainya hari ini, kemarin, tetapi kami gagal,” ujarnya, dalam konferensi pers di forum diplomatik di Antalya, Turki, seperti dikutip Jerusalem Post.
Menurut sumber Keamanan Mesir, perundingan gencatan senjata akan dilanjutkan di Kairo pada hari Ahad (3/3/2024). Sampai berita ini ditulis, redaksi Samudra Fakta belum mendapatkan informasi soal perundingan lanjutan di Kairo tersebut.◼︎





