Polemik gelar doktor untuk Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) sekaligus Ketua Umum Partai Golkar, Bahlil Lahadalia, kian menghangat setelah warganet mengaku menemukan indikasi jika dia tidak mengerjakan sendiri disertasinya.
Berdasarkan Metadata file Disertasi yang dikuliti warganet, didapati data jika bukan Bahlil yang menulis dan menyusun disertasinya yang bertajuk Kebijakan, Kelembagaan, dan Tata Kelola Hilirisasi Nikel yang Berkeadilan dan Berkelanjutan di Indonesia itu. Warganet menduga ada penggunaan ghost writer alias penulis bayangan.
“Berprasangka baik saja, bisa jadi si masnya cuma memindahkan file Word ke Pdf,” kata salah satu warganet X, yang mengunggah pertama kali metadata tersebut, dilihat Jumat, 18 Oktober 2024.
Dalam metadata yang ditemukan oleh warganet tersebut, yang tercatat sebagai author atau penulis dari file dengan judul Disertasi Bahlil Lahadalia – Sidang Promosi_Final.pdf adalah orang lain. Nama terduga penulis bayangan tersebut diketahui dimasukkan dalam ucapan terima kasih Bahlil dalam naskah Disertasinya.
Di sana juga dijelaskan pembuatan file 519 lembar itu tertanggal 10 April 2024. Nama penulis muncul di dalam lembar ringkasan Disertasi Bahlil bersama lima orang lainnya.
Sebagaimana diketahui, Bahlil Lahadalia mengikuti Sidang Promosi Terbuka Doktoral Bidang Kajian Stratejik dan Global di Universitas Indonesia pada Rabu, 16 Oktober lalu. Penelitian yang dilakukan sebagai bahan disertasinya ialah terkait dengan hilirisasi nikel di Indonesia.
Disertasi Bahlil untuk studi doktoral tersebut bertajuk Kebijakan, Kelembagaan, dan Tata Kelola Hilirisasi Nikel yang Berkeadilan dan Berkelanjutan di Indonesia. Sidang tersebut berlangsung sekitar 2 jam. Usai memaparkan hasil disertasinya, sidang diskors sekitar 15 menit.
“Maka berdasarkan semua ini, tim penguji memutuskan untuk mengangkat saudara Bahlil Lahadalia menjadi doktor dalam program studi Kajian Stratejik dan Global dengan yudisium cumlaude,” kata Ketua sidang disertasi I Ketut Surajaya, di Universitas Indonesia, Depok, Jawa Barat, Rabu (16/10/2024).
Namun, gelar doktor untuk Bahlil ini kemudian menuai polemik. Prosesnya dinilai terlalu cepat. Untuk itu, alumni UI pun membuat petisi agar gelar kehormatan akademik untuk Bahlil tersebut dicopot.
Hingga artikel diunggah, belum ada konfirmasi dari pihak Bahlil Lahadalia terkait kecurigaan warganet.*





