Tim aju Unair dipimpin dr Teddy Wardhana Sp OT selaku Koordinator Bantuan Medis Garda Ksatria Airlangga sekaligus Koordinator Program Studi Orthopedi dan Traumatologi FK Unair. Tim tersebut diperkuat tiga orang PPDS, satu dokter senior spesialis anestesi dan orthopedi, seorang PPDS yang merupakan putra daerah setempat, serta didukung perawat anestesi dan orthopedi. Komposisi tersebut disiapkan untuk melakukan asesmen sekaligus memberikan dukungan medis pada fase akut bencana.
Teddy menjelaskan, tim aju akan mengakses kebutuhan riil di lapangan sekaligus berkoordinasi dengan BPBD dan tim kesehatan setempat. Rencana awal, tim akan menuju rumah sakit umum yang saat ini membutuhkan perhatian. Tim juga membawa perlengkapan operasi, anestesi, dan berbagai kebutuhan pendukung sehingga dapat bekerja secara mandiri selama berada di lokasi.
“Prioritas kami adalah korban-korban yang membutuhkan penanganan segera. Jumlah dokter bedah dan anestesi di sana tidak banyak, sehingga kami berharap bisa membantu fase akut dari trauma ini,” ujar Teddy.
Selain berkoordinasi dengan tim kesehatan daerah, Unair juga menjalin koordinasi dengan Perhimpunan Dokter Spesialis Orthopaedi & Traumatologi Indonesia (PABOI) untuk memperkuat jejaring penanganan medis di wilayah terdampak.
Menurut Teddy, keberangkatan pada fase akut memungkinkan tim membantu korban yang masih belum memperoleh penanganan medis. Selain memberikan pelayanan, tim aju juga akan mendata kebutuhan riil yang ditemukan di lapangan sebagai dasar bagi dukungan Unair berikutnya.
Kebutuhan tersebut dapat mencakup berbagai aspek, termasuk dukungan psikologis bagi penyintas yang mengalami trauma pascabencana.
“Harapannya, dengan adanya tim aju ini mendata dan mengidentifikasi, tim berikutnya bisa menyusul dengan kebutuhan yang komprehensif. Misalnya kebutuhan PTSD, kita bisa mengirimkan teman-teman dari Psikologi,” tandasnya. ***





