Trump Umumkan Rusia-Ukraina Siap Negosiasi Gencatan Senjata. Perang Segera Berakhir?

Ilustrasi. | Sora/Samudra Fakta
Presiden AS Donald Trump mengeklaim Rusia dan Ukraina akan “segera” memulai negosiasi menuju gencatan senjata dan mengakhiri perang, setelah melakukan panggilan telepon selama dua jam dengan Presiden Rusia Vladimir Putin.

_______________________

Trump menggambarkan percakapan tersebut berjalan “sangat baik” dan menyatakan bahwa kondisi untuk perdamaian perlu dinegosiasikan antara kedua pihak.

Meski nada optimisme disampaikan oleh Trump—yang juga berbicara dengan Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky—kesepakatan damai atau gencatan senjata dalam waktu dekat masih belum tampak.

Bacaan Lainnya

Putin menyatakan kesiapan untuk bekerja sama dengan Ukraina guna menyusun “memorandum tentang kemungkinan perjanjian perdamaian di masa mendatang.” Sementara itu, Zelensky menyebut situasi saat ini sebagai “momen yang menentukan,” dan mendesak agar AS tidak menjauh dari proses perundingan.

Dalam pernyataannya, Presiden Rusia tidak menanggapi tuntutan AS dan negara-negara Eropa terkait gencatan senjata tanpa syarat selama 30 hari.

Usai panggilan telepon empat mata dengan Trump, seperti dilaporkan BBC , Jumat, 23 Mei 2025, Zelensky kembali menegaskan keinginan Ukraina untuk mencapai “gencatan senjata penuh dan tanpa syarat,” serta memperingatkan bahwa jika Moskow tidak siap, “harus ada sanksi yang lebih kuat.”

Zelensky juga menekankan bahwa keputusan apa pun terkait Ukraina tidak boleh dibuat tanpa melibatkan negaranya, dan menyebut hal tersebut sebagai “masalah prinsip.”

Ia mengatakan belum memiliki rincian tentang “memorandum” yang disebut Putin, namun menyatakan bahwa Ukraina akan “merumuskan visinya” setelah menerima dokumen resmi dari Rusia.

Dalam unggahan di platform Truth Social, Trump menulis: “Rusia dan Ukraina akan segera memulai negosiasi menuju Gencatan Senjata dan, yang lebih penting, MENGAKHIRI Perang,” seraya menambahkan bahwa ia telah memberi tahu Zelensky dalam panggilan kedua yang juga melibatkan sejumlah pemimpin dunia.

Trump menambahkan: “Syarat-syarat untuk itu akan dinegosiasikan antara kedua pihak, sebagaimana mestinya, karena mereka mengetahui perincian negosiasi yang tidak diketahui oleh orang lain.”

Zelensky menekankan bahwa proses negosiasi “harus melibatkan perwakilan Amerika dan Eropa pada tingkat yang sesuai,” dan menyatakan bahwa sangat penting bagi AS untuk tetap terlibat dalam proses perdamaian. “Satu-satunya pihak yang diuntungkan jika AS menjauh adalah Putin,” tegasnya.

Dalam pernyataan di Gedung Putih pada sore hari itu, Trump memastikan bahwa AS tidak akan menarik diri dari perundingan antara Rusia dan Ukraina, meskipun ia mengaku memiliki “garis merah di kepalanya” terkait batas kesabarannya dalam mendorong kedua pihak.

Trump juga membantah tuduhan bahwa AS telah menarik diri dari peran sebagai mediator. Namun, dalam beberapa minggu terakhir, ia telah berulang kali memperingatkan bahwa AS bisa saja mundur dari perundingan karena frustrasi dengan minimnya perkembangan dari Moskow dan Kyiv dalam mencapai perdamaian.

Saat ditanya pandangannya tentang Rusia, Trump menyatakan bahwa ia yakin Putin sudah muak dengan perang dan ingin mengakhirinya.

Sementara itu, Putin—yang melakukan panggilan telepon dengan Trump dari sebuah sekolah musik di Sochi—menyebut pembicaraan itu “terus terang, informatif, dan konstruktif.” Ia juga menyinggung potensi gencatan senjata.

“Kami telah sepakat dengan Presiden AS bahwa Rusia akan menawarkan dan siap bekerja sama dengan Ukraina untuk menyusun nota kesepahaman tentang kemungkinan perjanjian damai di masa mendatang,” ujarnya.

Putin menambahkan bahwa nota tersebut akan mencakup sejumlah poin, termasuk “prinsip penyelesaian dan jadwal penyelesaian perjanjian damai yang mungkin… termasuk kemungkinan gencatan senjata untuk jangka waktu tertentu, jika kesepakatan yang relevan tercapai.”

Perdana Menteri Italia Giorgia Meloni menyambut baik tawaran dari Paus Leo untuk menjadi tuan rumah pembicaraan damai. Tawaran ini juga dinilai positif oleh AS dan para pemimpin lain yang terlibat dalam panggilan tersebut.

Awal bulan ini, Paus yang baru menawarkan Vatikan sebagai tempat untuk pembicaraan damai, setelah Putin menolak tawaran Zelensky untuk bertemu langsung di Turki.

Sebelumnya, Kyiv menyebut klaim Putin tentang keinginannya untuk damai sebagai omong kosong. “Putin menginginkan perang,” kata Andriy Yermak, penasihat utama Presiden Ukraina, setelah Rusia melancarkan apa yang diklaim Ukraina sebagai serangan pesawat nirawak terbesar sejak invasi skala penuh dimulai.

Ukraina melaporkan bahwa sedikitnya 10 orang tewas dalam serangan Rusia beberapa hari terakhir—termasuk sembilan orang dalam serangan terhadap minibus sipil di Ukraina timur laut. Rusia mengklaim telah mencegat pesawat nirawak Ukraina.

Serangan terhadap bus tersebut terjadi hanya beberapa jam setelah Rusia dan Ukraina mengadakan pembicaraan tatap muka pertama mereka dalam lebih dari tiga tahun. Meski pertukaran tahanan disepakati, tidak ada komitmen untuk gencatan senjata.

Trump telah menawarkan untuk hadir dalam pembicaraan di Turki jika Putin juga hadir, namun presiden Rusia menolak untuk melakukan perjalanan tersebut.

Rusia sebelumnya telah beberapa kali mengumumkan gencatan senjata—namun bersifat sementara. Misalnya, pada 8–11 Mei bertepatan dengan peringatan kemenangan atas Perang Dunia II, namun Kyiv menolaknya karena menganggap Putin tidak dapat dipercaya dan menginginkan gencatan senjata 30 hari segera.

Kremlin juga sempat mengumumkan gencatan senjata 30 jam selama Paskah. Meski kedua pihak melaporkan penurunan intensitas pertempuran, mereka tetap saling menuduh melakukan ratusan pelanggaran.

Perang antara Rusia dan Ukraina telah berlangsung sejak Moskow melancarkan invasi skala penuh ke Ukraina pada Februari 2022.***

Pos terkait