Zelensky menekankan bahwa proses negosiasi “harus melibatkan perwakilan Amerika dan Eropa pada tingkat yang sesuai,” dan menyatakan bahwa sangat penting bagi AS untuk tetap terlibat dalam proses perdamaian. “Satu-satunya pihak yang diuntungkan jika AS menjauh adalah Putin,” tegasnya.
Dalam pernyataan di Gedung Putih pada sore hari itu, Trump memastikan bahwa AS tidak akan menarik diri dari perundingan antara Rusia dan Ukraina, meskipun ia mengaku memiliki “garis merah di kepalanya” terkait batas kesabarannya dalam mendorong kedua pihak.
Trump juga membantah tuduhan bahwa AS telah menarik diri dari peran sebagai mediator. Namun, dalam beberapa minggu terakhir, ia telah berulang kali memperingatkan bahwa AS bisa saja mundur dari perundingan karena frustrasi dengan minimnya perkembangan dari Moskow dan Kyiv dalam mencapai perdamaian.
Saat ditanya pandangannya tentang Rusia, Trump menyatakan bahwa ia yakin Putin sudah muak dengan perang dan ingin mengakhirinya.
Sementara itu, Putin—yang melakukan panggilan telepon dengan Trump dari sebuah sekolah musik di Sochi—menyebut pembicaraan itu “terus terang, informatif, dan konstruktif.” Ia juga menyinggung potensi gencatan senjata.
“Kami telah sepakat dengan Presiden AS bahwa Rusia akan menawarkan dan siap bekerja sama dengan Ukraina untuk menyusun nota kesepahaman tentang kemungkinan perjanjian damai di masa mendatang,” ujarnya.
Putin menambahkan bahwa nota tersebut akan mencakup sejumlah poin, termasuk “prinsip penyelesaian dan jadwal penyelesaian perjanjian damai yang mungkin… termasuk kemungkinan gencatan senjata untuk jangka waktu tertentu, jika kesepakatan yang relevan tercapai.”
Perdana Menteri Italia Giorgia Meloni menyambut baik tawaran dari Paus Leo untuk menjadi tuan rumah pembicaraan damai. Tawaran ini juga dinilai positif oleh AS dan para pemimpin lain yang terlibat dalam panggilan tersebut.
Awal bulan ini, Paus yang baru menawarkan Vatikan sebagai tempat untuk pembicaraan damai, setelah Putin menolak tawaran Zelensky untuk bertemu langsung di Turki.





