Tragedi Ngada: Saat Bansos Gagal Menambal Luka Psikososial Anak

Seorang Siswa SD di Ngada, NTT harus mengakhiri hidup karena tak dibelikan buku tulis dan pulpen. - Ilustrasi AI

“Ini sangat memprihatinkan. Kita harus evaluasi total. Mungkin kebijakan bansos perlu diubah bentuknya, karena seringkali bantuan tersebut salah sasaran atau tidak menyentuh kebutuhan spesifik anak,” kata Singgih, Rabu (4/2/2026).

Singgih menambahkan bahwa koordinasi lintas kementerian, termasuk Kementerian PPPA dan Kementerian Kesehatan, harus diperkuat agar persoalan yang “luput dari prediksi” seperti ini tidak terulang kembali.

Negara Tak Boleh Hanya Hadir Seremonial

Gus Izzul memberikan peringatan keras kepada pemerintah. Ia menegaskan bahwa tragedi ini adalah “alarm” bagi negara untuk segera membenahi rekonstruksi kebijakan yang berpihak pada anak. Ia menekankan bahwa negara tidak boleh hanya hadir secara seremonial dalam pembagian bantuan, melainkan harus menjamin ruang hidup yang bermartabat. Tanpa langkah nyata, ia khawatir kasus serupa akan terus terjadi dalam senyap di berbagai pelosok Indonesia.

Bacaan Lainnya

Negara harus hadir lebih dari sekadar statistik partisipasi. Jangan biarkan anak-anak kita merasa sendirian di tengah kemiskinan.***

Pos terkait