Tidurnya Orang Berpuasa Tak Selalu Bernilai Ibadah, Begini Penjelasannya

llustrasi tidur siang. Tidur seperti ini bisa bernllai ibadah, bisa juga tidak. (Canva)

Orang yang berpuasa namun masih saja melakukan perbuatan maksiat dalam puasanya, tidak mendapatkan fadhilah dalam hadits “tidurnya orang yang berpuasa adalah ibadah”. Sebab, tidur yang dia lakukan tidak dimaksudkan sebagai penunjang melaksanakan ibadah puasa, karena ia telah mengotorinya dengan perbuatan maksiat.

Tidur pada saat berpuasa dapat disebut sebagai ibadah ketika memenuhi dua kriteria. Pertama, tidak dimaksudkan untuk bermalas-malasan, tetapi untuk lebih bersemangat dalam menjalankan ibadah. Kedua, tidak mencampuri ibadah puasanya dengan melakukan perbuatan maksiat.

Bacaan Lainnya

Berdasarkan pandangan mazhab Syafi’i dan mayoritas ulama, orang yang tidur seharian saat puasa di bulan Ramadhan, sedangkan ia telah berniat puasa pada malam harinya, maka puasanya dianggap sah.

“Dan mereka (para ulama) telah bersepakat bahwa apabila seorang yang berpuasa bangun sebentar dari tidur di siang hari, kemudian tidur lagi, maka sah puasanya,” demikian tertulis dalam Muhyiddin Syaraf An-Nawawi, Al-Majmu’ Syarhul Muhadzdzab, juz VI, halaman 384.

Artinya, orang yang tidur seharian saat sedang berpuasa di bulan Ramadhan, puasanya dianggap sah. Dengan catatan, orang tersebut telah berniat puasa pada malam harinya.

Sementara itu, jika tidur sepanjang hari, namun ia meninggalkan kewajiban lain, yaitu shalat wajib, seperti Zuhur dan Ashar, hal tersebut merupakan dosa. Meski demikian, puasanya tidak lantas batal.

Dosen Fakultas Syariah dan Hukum UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, Dr. Moh. Tamtowi, M.Ag, pernah menjelaskan bahwa penting untuk memahami hadits “tidur orang puasa adalah ibadah” tersebut secara kontekstual, bukan tekstual.

Apabila dipahami secara luas, menurut Tamtowi, hadits ini masih memiliki manfaat, terlepas dari bagaimana derajat hadis tersebut.

“Saya kira, ini tidak bisa dipahami secara teksnya saja, tetapi harus dipahami konteksnya. Sebenarnya ini untuk menghindari hiruk-pikuk yang membuat puasa kita ini rusak,” kata Tamtowi, dikutip dari Kompas.tv, Selasa, 14 Maret 2023.

“Kalau memang dia tidak mampu menghindari hal-hal yang sebenarnya secara level (ibadah) kedua, kan level pertama, menahan makan dan minum sudah terpenuhi. Tetapi, pada level kedua, kan, misalnya berburuk sangka (suuzan), kalau belum mampu untuk meninggalkan itu, lebih baik tidur. Jika ditilik melalui cara pandang tersebut, maka fungsi puasa sebagai tameng atau benteng diri agar tidak terjatuh pada hal-hal yang merusak puasa dapat dilakukan.” terang dia.

Pos terkait